Senin, 01 Oktober 2012

Bagaimana hukumnya Mencerai Istrinya Sendiri karena perintah orang tua...?

Oleh: Badrul Tamam
Asslamu ‘alaikum Ustadz!

Ada seorang Ibu yang menyuruh anaknya untuk menceraikan istrinya karena sang ibu tidak suka kepada menantunya itu. Sementara setahu saya ada satu riwayat bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah memerintahkan kepada Ibnu Umar untuk menceraikan istrinya karena ayahnya, Umar bin Khathab memerintahkan hal itu kepada anaknya? Apakah sang anak wajib mentaati perintah ibunya itu ataukah tidak? Sikap apa yang harus dia ambil terhadap ibunya itu? Atas jawabannya kami ucapkan terima kasih.
Abu Abdillah – Bekasi Utara

Wa’alaikum salam . . .

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.

Berbakti dan mentaati kedua orang tua wajib hukumnya selama bukan dalam kemaksiatan, terlebih lagi kepada ibu. Allah Ta’ala menyebutkan perintah untuk berbakti kepada keduanya bersanding dengan perintah beribadah kepada-Nya dalam firman-Nya,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra’: 23)

Dan sesungguhnya ketaatan kepada orang tua wajib hukumnya atas anak, selama hal itu mendatangkan kabaikan dan manfaat bagi keduanya dan tidak menimbulkan mudharat atas diri anak. Sedangkan perintah yang tidak mendatangkan manfaat bagi keduanya atau bahkan menimbulkan mudharat atas anak maka tidak wajib dilaksanakan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam al-Ikhtiyaraat hal. 114 berkata, “Seorang insan wajib taat kepada kedua orang tuanya di luar kemaksiaatan, walaupun keduanya adalah orang fasik . . . dan ini karena ada manfaat bagi keduanya dan tidak menimbulkan madharat atasnya.”

Sementara desakan untuk menceraikan istri tanpa sebab yang dibolehkan syariat, sangat dibenci oleh Allah Ta’ala karena akan menghilangkan kenikmatan berkeluarga, menyebabkan bangunannya runtuh, dan anak terlantar. Dan boleh jadi dalam hal itu terjadi kedzaliman terhadap istri. Karenanya tidak boleh mentaati orang tua dalam masalah semacam ini. Dan ini tidak termasuk bagian dari durhaka kepada keduanya. Hanya saja dalam menolak perintah tersebut harus dengan penuh kelemahlembutan dan dengan ungkapan yang halus. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيماً

“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’: 23)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang sudah beristri dan memiliki beberapa anak, sementara ibunya tidak suka kepada istrinya tersebut dan mengisyaratkan kepada anak laki-lakinya supaya menceraikannya. Apakah dia boleh menceraikan istrinya tersebut? Beliau menjawab, “Tidak boleh dia menceraikan istrinya hanya karena perintah ibunya. Tapi dia tetap wajib berbakti kepada ibunya. Dan menceraikan istrinya tersebut bukan termasuk bagian bakti kepadanya.”

Ibnu Muflih dalam Al-Adaab al-syar’iyyah berkata, “Tidak wajib mentaati kedua orang tua untuk menceraikan istinya. Jika bapaknya menyuruhnya untuk menceraikan istrinya, maka tidak wajib ditaati. Demikianlah yang disebutkan mayoritas sahabat.”

Imam Sindi berkata, “Ada seorang laki-laki bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hambal), dia berkata, “Sungguh bapakku menyuruhku agar menceraikan istriku.” Beliau menjawab, “Jangan ceraikan dia.” Laki-laki itu berkata, “Bukankah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah menyuruh Ibnu Umar untuk menceraikan istrinya ketika ayahnya (Umar) menyuruh hak itu?” Beliau menjawab, “(Boleh) sehingga bapakmu menjadi seperti Umar radhiyallaahu ‘anhu”.

Kalau seorang ayah beralasan kepada anaknya, “Wahai anakku, sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Abdullah bin Umar untuk menceraikan istrinya ketika ayahnya (Umar) menyuruhnya untuk menceraikan istrinya,” maka tidak tepat sang anak menjawab dengan jawaban, “Apakah Anda ini seperti Umar?” Namun dia tetap wajib berkata yang lembut semisal mengatakan, “Wahai ayah, sesungguhnya Umar memandang ada maslahat besar ketika memerintahkan anaknya untuk menceraikan istrinya.” (Disarikan dari Fatawa al-Jami’ah lil mar’ah al muslimah: 2/671)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, pernah ada seorang laki-laki menyampaikan kepada Al-Hasan bahwa ibunya telah menyuruhnya untuk menikah. Kemudian setelah itu ibunya menyuruhnya untuk menceraikan istrinya itu, maka Al-Hasan menjawab, “Sesungguhnya menceraikan istrimu sama sekali bukan termasuk berbakti kepada ibumu.”

Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam kehidupan berkeluarga pasti ada masalah dan keributan. Maka jika setiap orang yang diminta oleh kedua orang tuanya atau salah satunya untuk menceraikan istrinya lalu dia melakukan itu, maka pastilah jumlah janda yang menjadi korban perceraian lebih banyak daripada yang menikah. Dan bagi orangtuanya tidak boleh meminta anaknya untuk menceraikan istrinya kecuali karena adanya sebab yang diterima oleh syariat.
Fatwa Syaikh Utsaimin rahimahullaah

Syaikh Muhammad bin Shalih bin Ustaimin rahimahullaah pernah ditanya tentang hukum menceraikan istri karena sang Ibu menyuruhnya melakukan itu. Beliau menjawab,
“Apabila seorang ayah meminta anaknya untuk menceraikan istinya, maka kondisinya tidak lepas dari dua hal: 

Pertama, orang tuanya menyampaikan adanya sebab syar’i yang menuntut agar menceraikannya. Misalnya dia berkata, “Ceraikan istrimu!” Karena tingkah lakunya mencurigakan seperti suka merayu laki-laki atau menghadiri perkumpulan yang tidak baik atau semacamnya. Dalam kondisi ini, dia wajib menuruti orang tuanya dan menceraikan istrinya, karena dia tidak berkata, “ceraikan dia” karena hawa nafsunya, tapi karena menjaga ranjang anaknya agar tidak terkotori dengan hal-hal buruk tersebut. Maka sang anak harus menceraikan istrinya itu.

Kedua, orang tua berkata kepada anaknya, “ceraikan istrimu,” dikarenakan sang anak sangat mencintai istrinya itu sehingga ibunya cemburu atasnya. Dan sering seorang ibu sangat cemburu jika melihat anak laki-lakinya menyayangi istrinya dan khawatir menantunya itu mendatangkan keburukan baginya. Maka dalam kondisi ini seorang anak tidak wajib menceraikan istrinya apabila ayah atau ibunya menyuruh menceraikan istrinya. Tetapi dia harus menyadarkan keduanya dengan tetap mempertahankan keluarganya, merayu keduanya dengan perkataan yang lembut sehingga menerima keberadaan istrinya, terlebih kalau sang istri shalihah (baik) dalam dien dan akhlaknya.
Fatwa Lajnah Daimah

Lajnah Daiman pernah ditanya dengan soal serupa. Ada seorang ibu menyuruh anaknya untuk menceraikan istrinya tanpa sebab dan aib dalam agamanya, bahkan hal itu dikarenakan sikap egois sang ibu. Maka Lajnah menjawab, “Apabila realitanya seperti yang disampaikan bahwa sang istri shalihah dan dia sangat mencintianya serta keberadaannya sangat berharga di sisinya. Terlebih sang istri tidak pernah berbuat buruk kepada ibunya. Sementara sang ibu membencinya hanya karena kepentingan pribadi. Maka bagi sang suami untuk tetap mempertahankan istrinya dalam ikatan perkawinan bersamanya. Dia tidak wajib menceraikan istrinya karena mematuhi ibunya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya ketaatan hanya dalam hal yang ma’ruf (baik).” Dan bagi sang anak untuk tetap berbakti kepada ibunya, tetap mengunjunginya, berlemah lembut dan memberikan nafkah untuknya, memenuhi kebutuhannya, berusaha melapangkan dadanya, dan mencari keridlaannya dengan segenap kemampuannya kecuali untuk menceraikan istrinya.” (Fatawa Lajnah Daimah: 20/29) Wallahu a’lam bil shawab…. (PurWD/voa-islam.com)

 

http://amininoorm.wordpress.com/2011/01/08/wajibkah-mentaati-perintah-ibu-untuk-menceraikan-istri/

Valentine’s Day Bukan Dari & Untuk Islam!

Oleh: Ustadz Abu Ammar al-Ghoyami -hafizhahullah-

Tersebutlah dalam sejarah, bahwa dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Lupercalia adalah rangkaian perayaan yang disertai upacara pensucian di masa Romawi Kuno yang berlangsung dari tanggal 13-18 Februari. Dua hari pertama, perayaan tersebut dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata.

Pada dua hari ini, para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak. Gadis yang namanya terambil harus menjadi pasangannya dalam menghibur diri dan menjadi obyek bersenang-senang selama setahun. Lalu pada tanggal 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan binatang buas semacam serigala dan sebagainya. Selama upacara ini, para pemuda membawa sehelai atau selembar kulit binatang sebagai cemeti lembut, dan para wanita berebut untuk dilecut dengan anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama resmi negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama Katolik Roma mengadopsi upacara ini, namun mereka mewarnainya dengan nuansa Kristiani. Mereka mengganti nama-nama gadis yang diundi dengan nama-nama Paus atau Pastor. Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I pun mendukung upacara adopsian ini.[i]

Kemudian, pada 496 M Paus Gelasius menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja yang akhirnya mereka sebut dengan nama Saint Valentine’s Day guna menghormati Santo Valentine yang kebetulan mati pada tanggal 14 Februari.[ii]

Tersebut, ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari. Seorang di antaranya dilukiskan sebagai orang yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak terdapat penjelasan yang bisa dipertanggungjawabkan tentang siapa “St. Valentine” yang dimaksud. Ada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda dalam hal ini, yaitu seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna, dan ketiga seorang martir di provinsi Romawi Africa. Paus Gelasius sendiri menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada hal yang diketahui dari ketiga martir ini. Adapun 14 Februari dirayakan sebagai peringatan santo valentines semata-mata sebagai upaya mengungguli hari raya Lupercalica.[iii]

Hal yang sama ialah tentang kisahnya. Kisah tentang kematian martir yang sampai kini tak pernah diketahui ujung-pangkalnya, bahkan setiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda. Menurut satu versi, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan Tuhannya adalah Isa al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Sehingga orang-orang yang mendambakan do’a St. Valentine pun menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi lainnya mengatakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St. Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga ia pun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M.[iv]

Versi lainnya menyebutkan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena memperjuangkan kepercayaan), ia menulis sebuah pernyataan cinta dalam sebuah kartu kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”.[v]

Titik Terang

Memperhatikan kisah sejarah yang disebutkan di atas, semestinya dengan mudah bisa dipahami tentang asal muasal hari valentine yang sedang banyak disponsori oleh media-media massa di dalam maupun luar negeri. Terlepas dari kebenaran tulisan sejarah, peringatan ini awalnya merupakan upacara kesyirikan, menduakan Alloh w\ dengan para dewa, yang dilakukan setiap tanggal 15 Februari. Kemudian berkembang menjadi sebuah perayaan resmi gereja kaum Nasrani yang dirayakan setiap tanggal 14 Februari demi menghormati kematian seorang santo bernama Valentine, ialah tokoh Nasrani yang dianggap sebagai pahlawan agama dan sebagai pejuang kasih sayang sebagaimana yang mereka sangka. Sehingga kemudian hari tersebut diistilahkan dengan hari kasih sayang. Demikianlah sebagaimana dikisahkan dalam sejarah.

Jadi, perayaan ini bukan dari Islam, bukan dari agama tauhid, bukan dari kaum mukminin yang bertauhid dan bukan pula dari orang-orang sholih yang telah mendahului kita. Namun musibah sebesar-besar musibah ialah, apa yang menimpa sebagian besar umat Islam saat ini. Di mana sebagian umat ini, menutup mata dari kenyataan sejarah di atas, bahkan terlebih dahulu mereka menutup mata dari mempelajari agamanya. Akibatnya mereka terjatuh atau bahkan menjatuhkan diri dalam kubangan peringatan hari valentine dengan berbagai kemaksiatannya, kerusakan serta dosa-dosa yang ada.

[i] The Encyclopedia Britannica, Sub Judul: Christianity
[ii] The World Book Encyclopedia, 1998
[iii] Catholic Encyclopaedia, 1908
[iv] The World Book Encyclopedia, 1998
[v] Pembahasan di atas diringkas dari: http://id.wikipedia.org/ dan sumber lainnya.
Sumber: http://alghoyami.wordpress.com 
http://amininoorm.wordpress.com/2011/02/13/valentine%E2%80%99s-day-bukan-dari-untuk-islam/






Bagaimana hukumnya Berpuasa Sunnah Syawal Sebelum qhodlo Ramadhan....?

SOAL: Apabila seorang wanita hendak berpuasa sunnah enam hari dari bulan Syawal sementara dia masih punya hutang puasa Ramadlan dan belum mengadla’nya, apakah dia boleh langsung melaksanakan puasa Sunnah tersebut baru kemudian melaksanakan qadla atau harus mengadla puasa Ramadlannya dahulu?
Disi Nur Sakina – Bekasi

JAWAB:

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah untuk Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya.

Secara global, para ulama berselisih pendapat tentang bolehnya berpuasa sunnah sebelum selesai melaksanakan qadla Ramadlan dalam dua pendapat.

Pertama, boleh berpuasa sunnah sebelum melaksanakan qadla Ramadlan. Ini merupakan pendapat Jumhur, baik bolehnya secara global ataupun makruh. Madzab Hanafi membolehkan untuk langsung berpuasa sunnah sebelum melaksanakan qadla Ramadlan karena puasa qadla tidak wajib untuk disegerakan, bahkan kewajibannya sangat luas (lapang), dan ini merupakan satu riwayat dari Ahmad.

Sedangkan madhab Maliki dan Syafi’i berpendapat: boleh tapi makruh. Sebabnya, karena menyibukkan diri dengan amal sunnah dari yang qadla berupa mengakhirkan yang wajib.

Kedua, haram berpuasa sunnah sebelum melaksanakan qadla’ Ramadlan. Ini merupakan pendapat madhab Hambali.

Yang shahih dari dua pendapat ini adalah yang menyatakan bolehnya berpuasa Sunnah enam hari di bulan syawal sebelum membayar puasa Ramadlan. Karena waktu (kesempatan) qadla’ (membayar puasa Ramadlan) luas. Sedangkan pendapat yang tidak membolehkan dan menyatakan tidak sah membutuhkan dalil, dan tidak ada satu dalilpun yang bisa dijadikan sandaran untuk hal itu. Sementara dalil yang ada menunjukkan bolehnya untuk melaksanakan puasa sunnah sebelum puasa qadla, yaitu :

firman Allah Ta’ala, “. . . Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185)

dan hadits Aisyah radliyallaahu ‘anha, “Aku memiliki hutang puasa Ramadlan, tetapi aku tidak sanggup menggantinya kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan tidak diragukan lagi bahwa Aiysah radliyallaahu ‘anha melaksanakan puasa sunnah di sela-sela tahun itu, dan pastinya perbuatan Aisyah itu diketahui oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ini berarti beliau menyetujuinya.

Sedangkan persoalan yang berkaitan dengan puasa enam hari di bulan Syawal sebelum selesai melaksanakan qadla Ramadlan, di kalangan ulama, terdapat dua pendapat:

Pertama, keutamaan puasa di bulan syawal tidak bisa diraih kecuali oleh orang yang sudah menyelesaikan hutang puasa Ramadlan yang pernah ditinggalkannya karena udzur. Mereka berdalil dengan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka dia seperti puasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim dari Abu Ayyub al-Anshari)

Dan seseorang disebut telah berpuasa Ramadlan jika telah menyelesaikan jumlah hari di bulan tersebut. Imam al-Haitami dalam Tuhfah al-Muhtaj (3/457) menjelaskan keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal diraih dengan puasa Ramadlan, yaitu keseluruhannya. Jika tidak maka keutamaan tersebut tidak akan diraih.

Ibnu Muflih dalam kitabnya Al-Furu’ (3/108) berkata, “Keutamaan puasanya (enam hari dari bulan Syawal) ditujukan bagi orang yang melaksanakan puasa tersebut dan telah mengqadla puasa Ramadlan, dan tidak puasanya di bulan Ramadlan itu dikarenakan udzur. . . .” Dan sejumlah ulama kontemporer juga berpendapat demikian seperti Syaikh Abdul Aziz bin Bazz dan Syaikh Muhammad al-Utsaimin rahimahumallaah.

Kedua, bahwa keutamaan puasa enam hari dari bulan Syawal bisa diraih bagi siapa yang melaksanakannya sebelum mangadla’ puasa yang ditinggalkannya di bulan Ramadlan karena ada udzur. Karena orang yang tidak berpuasa beberapa hari di bulan Ramadlan dikarenakan udzur bisa dibenarkan kalau dia telah berpuasa Ramadlan. Lalu apabila dia mengiringinya dengan puasa enam hari dari bulan Syawal sebelum melaksanakan qadla’, maka dia mendapatkan pahala yang dijanjikan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Al-Bujairimi dalam Hasyiyahnya menukil tentang bantahan terhadap pendapat yang mengatakan tidak akan diperoleh pahala puasa enam hari dari bulan Syawal oleh orang yang mendahulukan puasa tersebut atas puasa qadla’ dengan hujjah bahwa sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam “Lalu diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal”. Beliau beralasan bahwa kata tab’iyah “mengikuti” bisa bermakna taqdiriyah, artinya kalau puasa tesebut dilaksanakan sesudah melaksanakan puasa di bulan Ramadlan (walau masih memiliki hutang karena udzur), maka berpuasa enam hari di bulan syawal disebut telah mengikuti.

Ada sejumlah ulama kontemporer yang condong kepada pendapat kedua, seperti Syaikh Abu Malik Kamal bin al-Sayyid Salim dalam Shahih Fiqih Sunnahnya. Setelah beliau menukilkan pendapat ulama yang melarang untuk mendahulukan puasa enam hari di bulan Syawal sebelum mengadla’ puasa Ramadlan yang ditinggalkannya karena udzur, beliau mengatakan, “Kecuali bila dikatakan sabdanya: ‘kemudian dilanjutkan dengan puasa enam hari dari bulan Syawal’, terucap secara umum, dan tidak memiliki konteks mafhum sama sekali, maka ketika itu boleh melaksanakan puasa enam hari di blan syawal tersebut sebelum melaksanakan puasa qadlan Ramadlan. Terutama apabila bulan syawal terasa sempit bagi seseorang jika harus mengadla terlebih dahulu. (Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik Kamal Salim, Pustaka al-Tazkia, Jakarta: 3/182)

Puasa enam hari di bulan Syawal merupakan keutamaan khusus untuk bulan ini yang akan hilang dengan berlalunya bulan Syawal.

Syaikh Khalid bin Abdullah al-Mushlih juga termasuk yang lebih condong untuk membolehkan. Beliau menjelaskan, bahwa makna didapatkannya keutamaan tersebut tidak tergantung dengan selesai dari melaksanakan qadla’ sebelum melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal. Karena kelanjutan puasa bulan Ramadlan untuk puasa sepuluh bulan sesudahnya bisa diraih dengan menyempurnakan pelaksanaan amal fardlu baik dengan langsung atau diqadla’. Dan Allah sendiri telah melapangkan dalam masalah qadla’ melalui firman-Nya,

فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ

“. . . Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Pendapat yang shahih: boleh berpuasa Sunnah enam hari di bulan syawal sebelum membayar puasa Ramadlan. Karena waktu (kesempatan) qadla’ (membayar puasa Ramadlan) luas.

Sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal merupakan keutamaan khusus untuk bulan ini yang akan hilang dengan berlalunya bulan Syawal. Namun demikian mendahulukan puasa fardlu untuk mengangkat beban kewajiban itu lebih utama daripada menyibukkan dengan amal sunnah. Tapi siapa yang berpuasa enam hari di bulan Syawal lalu baru melaksanakan puasa qadla sesudahnya, maka dia mendapatkan keutamaan puasa tersebut karena tidak ada dalil khusus yang meniadakan hilangnya keutamaan tersebut. wallahu a’lam [voa-islam.com]



http://amininoorm.wordpress.com/2011/01/08/bolehkah-berpuasa-sunnah-syawal-sebelum-membayar-puasa-ramadhan/

13 SIFAT PRIA YANG TIDAK DISUKAI WANITA

Para istri atau kaum wanita adalah manusia yang juga mempunyai hak tidak suka kepada laki-laki karena beberapa sifa-sifatnya. Karena itu kaum lelaki tidak boleh egois, dan merasa benar. Melainkan juga harus memperhatikan dirinya, sehingga ia benar-benar bisa tampil sebagai seorang yang baik. Baik di mata Allah, pun baik di mata manusia, lebih-lebih baik di mata istri. Ingat bahwa istri adalah sahabat terdekat, tidak saja di dunia melainkan sampai di surga. Karena itulah perhatikan sifat-sifat berikut yang secara umum sangat tidak disukai oleh para istri atau kaum wanita. Semoga bermanfaat.

* Pertama, Tidak Punya Visi

Setiap kaum wanita merindukan suami yang mempunyai visi hidup yang jelas. Bahwa hidup ini diciptakan bukan semata untuk hidup. Melainkan ada tujuan mulia. Dalam pembukaan surah An Nisa’:1 Allah swt. Berfirman: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. Dalam ayat ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa tujuan hidup berumah tangga adalah untuk bertakwa kepada Allah. Takwa dalam arti bersungguh mentaati-Nya. Apa yang Allah haramkan benar-benar dijauhi. Dan apa yang Allah perintahkan benar ditaati.

Namun yang banyak terjadi kini, adalah bahwa banyak kaum lelaki atau para suami yang menutup-nutupi kemaksiatan. Istri tidak dianggap penting. Dosa demi dosa diperbuat di luar rumah dengan tanpa merasa takut kepada Allah. Ingat bahwa setiap dosa pasti ada kompensasinya. Jika tidak di dunia pasti di akhirat. Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang hancur karena keberanian para suami berbuat dosa. Padahal dalam masalah pernikahan Nabi saw. bersabda: “Pernikahan adalah separuh agama, maka bertakwalah pada separuh yang tersisa.”

* Kedua, Kasar

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Ini menunjukkan bahwa tabiat wanita tidak sama dengan tabiat laki-laki. Karena itu Nabi saw. menjelaskan bahwa kalau wanita dipaksa untuk menjadi seperti laki-laki tulung rusuk itu akan patah. Dan patahnya berarti talaknya. Dari sini nampak bahwa kaum wanita mempunyai sifat ingin selalui dilindungi. Bukan diperlakukan secara kasar. Karena itu Allah memerintahkan para suami secara khusus agar menyikapi para istri dengan lemah lembut: Wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf (Dan sikapilah para istri itu dengan perlakuan yang baik) An Nisa: 19. Perhatikan ayat ini menggambarkan bahwa sikap seorang suami yang baik bukan yang bersikap kasar, melainkan yang lembut dan melindungi istri.

Banyak para suami yang menganggap istri sebagai sapi perahan. Ia dibantai dan disakiti seenaknya. Tanpa sedikitpun kenal belas kasihan. Mentang-mentang badannya lebih kuat lalu memukul istri seenaknya. Ingat bahwa istri juga manusia. Ciptaan Allah. Kepada binatang saja kita harus belas kasihan, apalagi kepada manusia. Nabi pernah menggambarkan seseorang yang masuk neraka karena menyikas seekor kucing, apa lagi menyiksa seorang manusia yang merdeka.

* Ketiga, Sombong

Sombong adalah sifat setan. Allah melaknat Iblis adalah karena kesombongannya. Abaa wastakbara wakaana minal kaafiriin (Al Baqarah:34). Tidak ada seorang mahlukpun yang berhak sombong, karena kesombongan hanyalah hak priogatif Allah. Allah berfirman dalam hadits Qurdsi: “Kesombongan adalah selendangku, siapa yang menandingi aku, akan aku masukkan neraka.” Wanita adalah mahluk yang lembut. Kesombongan sangat bertentangan dengan kelembutan wanita. Karena itu para istri yang baik tidak suka mempunyai suami sombong.

Sayangnya dalam keseharian sering terjadi banyak suami merasa bisa segalanya. Sehingga ia tidak mau menganggap dan tidak mau mengingat jasa istri sama sekali. Bahkan ia tidak mau mendengarkan ucapan sang istri. Ingat bahwa sang anak lahir karena jasa kesebaran para istri. Sabar dalam mengandung selama sembilan bulan dan sabar dalam menyusui selama dua tahun. Sungguh banyak para istri yang menderita karena prilaku sombong seorang suami.

* Keempat, Tertutup

Nabi saw. adalah contoh suami yang baik. Tidak ada dari sikap-sikapnya yang tidak diketahui istrinya. Nabi sangat terbuka kepada istri-istrinya. Bila hendak bepergian dengan salah seorang istrinya, nabi melakukan undian, agar tidak menimbulkan kecemburuan dari yang lain. Bila nabi ingin mendatangi salah seorang istrinya, ia izin terlebih dahulu kepada yang lain. Perhatikan betapa nabi sangat terbuka dalam menyikapi para istri. Tidak seorangpun dari mereka yang merasa didzalimi. Tidak ada seorang dari para istri yang merasa dikesampingkan.

Kini banyak kejadian para suami menutup-nutupi perbuatannya di luar rumah. Ia tidak mau berterus terang kepada istrinya. Bila ditanya selalu jawabannya ngambang. Entah ada rapat, atau pertemuan bisnis dan lain sebagainya. Padahal tidak demikian kejadiannya. Atau ia tidak mau berterus terang mengenai penghasilannya, atau tidak mau menjelaskan untuk apa saja pengeluaran uangnya. Sikap semacam ini sungguh sangat tidak disukai kaum wanita. Banyak para istri yang tersiksa karena sikap suami yang begitu tertutup ini.

* Kelima, Plinplan

Setiap wanita sangat mendambakan seorang suami yang mempunyai pendirian. Bukan suami yang plinplan. Tetapi bukan diktator. Tegas dalam arti punya sikap dan alasan yang jelas dalam mengambil keputusan. Tetapi di saat yang sama ia bermusyawarah, lalu menentukan tindakan yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan. Inilah salah satu makna qawwam dalam firman Allah: arrijaalu qawwamuun alan nisaa’ (An Nisa’:34).

* Keenam, Pembohong

Banyak kejadian para istri tersiksa karena sang suami suka berbohong. Tidak mau jujur atas perbuatannya. Ingat sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh ke tanah. Kebohongan adalah sikap yang paling Allah benci. Bahkan Nabi menganggap kebohongan adalah sikap orang-orang yang tidak beriman. Dalam sebuah hadits Nabi pernah ditanya: hal yakdzibul mukmin (apakah ada seorang mukmin berdusta?) Nabi menjawab: Laa (tidak). Ini menunjukkan bahwa berbuat bohong adalah sikap yang bertentangan dengan iman itu sendiri.

Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang bubar karena kebohongan para suami. Ingat bahwa para istri tidak hanya butuh uang dan kemewahan dunia. Melainkan lenbih dari itu ia ingin dihargai. Kebohongan telah menghancurkan harga diri seorang istri. Karena banyak para istri yang siap dicerai karena tidak sanggup hidup dengan para sumai pembohong.

* Ketujuh, Cengeng

Para istri ingin suami yang tegar, bukan suami yang cengeng. Benar Abu Bakar Ash Shiddiq adalah contoh suami yang selalu menangis. Tetapi ia menangis bukan karena cengeng melainkan karena sentuhan ayat-ayat Al Qur’an. Namun dalam sikap keseharian Abu Bakar jauh dari sikap cengeng. Abu Bakar sangat tegar dan penuh keberanian. Lihat sikapnya ketika menghadapi para pembangkang (murtaddin), Abu Bakar sangat tegar dan tidak sedikitpun gentar.

Suami yang cenging cendrung nampak di depan istri serba tidak meyakinkan. Para istri suka suami yang selalu gagah tetapi tidak sombong. Gagah dalam arti penuh semangat dan tidak kenal lelah. Lebih dari itu tabah dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.

* Kedelapan, Pengecut

Dalam sebuah doa, Nabi saw. minta perlindungan dari sikap pengecut (a’uudzubika minal jubn), mengapa? Sebab sikap pengecut banyak menghalangi sumber-sumber kebaikan. Banyak para istri yang tertahan keinginannya karena sikap pengecut suaminya. Banyak para istri yang tersiksa karena suaminya tidak berani menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Nabi saw. terkenal pemberani. Setiap ada pertempuran Nabi selalu dibarisan paling depan. Katika terdengar suara yang menakutkan di kota Madinah, Nabi saw. adalah yang pertama kaluar dan mendatangi suara tersebut.

Para istri sangat tidak suka suami pengecut. Mereka suka pada suami yang pemberani. Sebab tantangan hidup sangat menuntut keberanian. Tetapi bukan nekad, melainkan berani dengan penuh pertimbangan yang matang.

* Kesembilan, Pemalas

Di antara doa Nabi saw. adalah minta perlindingan kepada Allah dari sikap malas: allahumma inni a’uudzubika minal ‘ajizi wal kasal , kata kasal artinya malas. Malas telah membuat seseorang tidak produktif. Banyak sumber-sumber rejeki yang tertutup karena kemalasan seorang suami. Malas sering kali membuat rumah tangga menjadi sempit dan terjepit. Para istri sangat tidak suka kepada seorang suami pemalas. Sebab keberadaanya di rumah bukan memecahkan masalah melainkan menambah permasalah. Seringkali sebuah rumah tangga diwarnai kericuhan karena malasnya seorang suami.

* Kesepuluh, Cuek Pada Anak

Mendidik anak tidak saja tanggung jawab seorang istri melainkan lebih dari itu tanggung jawab seorang suami. Perhatikan surat Luqman, di sana kita menemukan pesan seorang ayah bernama Luqman, kepada anaknya. Ini menunjukkan bahwa seorang ayah harus menentukan kompas jalan hidup sang anak. Nabi saw. Adalah contoh seorang ayah sejati. Perhatiannya kepada sang cucu Hasan Husain adalah contoh nyata, betapa beliau sangat sayang kepada anaknya. Bahkan pernah berlama-lama dalam sujudnya, karena sang cucu sedang bermain-main di atas punggungnya.

Kini banyak kita saksikan seorang ayah sangat cuek pada anak. Ia beranggapan bahwa mengurus anak adalah pekerjaan istri. Sikap seperti inilah yang sangat tidak disukai para wanita.

* Kesebelas, Menang Sendiri

Setiap manusia mempunyai perasaan ingin dihargai pendapatnya. Begitu juga seorang istri. Banyak para istri tersiksa karena sikap suami yang selalu merasa benar sendiri. Karena itu Umar bin Khaththab lebih bersikap diam ketika sang istri berbicara. Ini adalah contoh yang patut ditiru. Umar beranggapan bahwa adalah hak istri mengungkapkan uneg-unegnya sang suami. Sebab hanya kepada suamilah ia menemukan tempat mencurahkan isi hatinya. Karena itu seorang suami hendaklah selalu lapang dadanya. Tidak ada artinya merasa menang di depan istri. Karena itu sebaik-baik sikap adalah mengalah dan bersikap perhatian dengan penuh kebapakan. Sebab ketika sang istri ngomel ia sangat membutuhkan sikap kebapakan seorang suami. Ada pepetah mengatakan: jadilah air ketika salah satunya menjadi api.

* Keduabelas, Jarang Komunikasi

Banyak para istri merasa kesepian ketika sang suami pergi atau di luar rumah. Sebaik-baik suami adalah yang selalu mengontak sang istri. Entah denga cara mengirim sms atau menelponnya. Ingat bahwa banyak masalah kecil menjadi besar hanya karena miskomunikasi. Karena itu sering berkomukasi adalah sangat menentukan dalam kebahagiaan rumah tangga.

Banyak para istri yang merasa jengkel karena tidak pernah dikontak oleh suaminya ketika di luar rumah. Sehingga ia merasa disepelekan atau tidak dibutuhkan. Para istri sangat suka kepada para suami yang selalu mengontak sekalipun hanya sekedar menanyakan apa kabarnya.

* Ketigabelas, Tidak Rapi dan Tidak Harum

Para istri sangat suka ketika suaminya selalu berpenampilan rapi. Nabi adalah contoh suami yang selalu rapi dan harum. Karena itu para istrinya selalu suka dan bangga dengan Nabi. Ingat bahwa Allah Maha indah dan sangat menyukai keindahan. Maka kerapian bagian dari keimanan. Ketika seorang suami rapi istri bangga karena orang-orang pasti akan berkesan bahwa sang istri mengurusnya. Sebaliknya ketika sang suami tidak rapi dan tidak harum, orang-orang akan berkesan bahwa ia tidak diurus oleh istrinya. Karena itu bagi para istri kerapian dan kaharuman adalah cermin pribadi istri. Sungguh sangat tersinggung dan tersiksa seorang istri, ketika melihat suaminya sembarangan dalam penampilannya dan menyebarkan bahu yang tidak enak. Allahu a’lam


###

http://dejaqfar.co.cc/information/13-sifat-laki-laki-yang-tidak-disukai-perempuan/  http://amininoorm.wordpress.com/2011/07/11/13-sifat-laki-laki-yang-tidak-disukai-perempuan/




Kenapa Kamu Tidak Mau Pacaran

Pertanyaan inilah yg selalu dilontarkan oleh teman-teman wanita Fatimah. Mereka sungguh merasa heran dengan Fatimah, yg belum punya pacar padahal umur fatimah sudah lebih dari sweet seventeen.
 
Rata-rata hampir semua teman Fatimah sudah memiliki pacar, yang kata mereka pacaran itu indah bangat, serasa dunia milik berdua (waduhh..!). Diantara teman-teman Fatimah pun ada yang berjilbab (jilbab versi masa kini) dan sudah memiliki pacar.

Meraka juga terheran-heran sama Fatiamah. Kenapa demikian karena Fatimah termasuk gadis yg paling cantik dan manis diantara mereka. Aura kecantikan Fatimah begitu memikat mereka , padahal fatimah masih menggunakan hijab (pakian longgar yang menutup seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan).

Pernah suatu saat teman-teman wanita Fatimah datang ke rumah Fatimah untuk mengerjakan tugas kelompok. Kebetulan waktu itu Fatimah sedang mau mengerjakan sholat Zuhur, karena semua teman-temanya Fatimah adalah wanita. Fatimah tidak merasa khawatir untuk membuka Hijabnya untuk keperluan wudu, sehingga nampaklah rambut indah fatimah serta leher fatimah.

Saat itu teman-teman wanita Fatimah melihat Fatimah tidak memakai penetup kepala dan rambut serta leharnya kelihatan, mereka semua terpana bahkan salah seorang berteriak histeris: Wooww imah kamu cantik sekali! Fatimah tersenyum mendengar teriakan keterpesonaan temannya itu.

Salah satu temannya berkata: “Imah kamu tidak kalah sama pemain sinetron yang cantik itu, itu lo si Bella..?!” Fatimah membalas: “si Bella siapa ya?” Salah satu temannya heran: “Aduh Imah kamu tidak tahu si bella, semua orang juga tahu lagi, dia pemain sinetron yang lagi naik daun lo.” “Maaf Imah gak pernah nonton sinetron.” balas fatimah.

Salah seorang dari mereka bercanda sambil nyindir: “Makanya Imah jangan baca buku agama terus dong, bosan tau, sekali-kali nonton sinetron kek, ke pub kek, nongkrong malam mingguan kek sama kita-kita, kan biar gaul gitu, kan malu nanti gak dibilang gaul , masak si Bella aja kagak kenal.” Fatimah hanya tersenyum sedih dan dalam hatinya berkata: “ Ya Allah berilah petunjuk kepada teman-temanku ini.”

Bukannya Fatimah tidak pernah memberikan nasehat kepada mereka bahkan sering. Namun mereka hanya tersenyum masam-masam aja seolah menganggap remeh nasehat dari Fatimah bahkan setelah diberi nasehat bukannya berterimakasih tetapi malah dibuat candaan. “Iya bu ustadzah” kata seorang temannya saat itu (Astagafirulloh).

Bahkan yang lebih gila lagi ada seorang temannya, yang menganjurkan Fatimah untuk membuka hijabnya dan menganjurkan berpakaian ketat. Alasannya agar semua pria bisa melihat pesona kecantikan wajah Fatimah dan keseksian tubuh Fatimah. “Eh Imah, kita-kita kan tau kamu cantik, full cantik, kalau boleh usul ni, itu jilbab dibuka saja. Berpakain kayak kita-kita gitu lo. Aku yakin para pria tampan dan ganteng akan datang ke Imah, untuk mendapatkan cinta Imah, kita-kita sebagai teman ikut bangga lo, barangkali aja kita-kita dapat keciprakan pria ganteng sisa-sisa dari Imah (sambil tertawa genit).” Begitu kata salah seorang teman sekolah Fatimah. Tentu saja Fatimah yang tahu hukum bertabbaruj itu menolak dengan keras usulan tersebut.

Dalam kesendiriannya Fatimah berdoa agar Allah menunjuki atau memberi hidayah teman-temannya. Fatimah pernah dengar dari seorang temannya yang berpendapat. “Imah kamu kan tahu aku ini pake jilbab juga, yah walau pun beda-beda dikit aja sama kamu, tapi aku pacaran juga, kan tidak ada salahnya punya pacar asalkan kita bisa menjaga diri kita.” Begitu kata pendapat temannya.
Apakah dia tidak tahu bahwa islam sangat perhatian tentang menjaga hati. Islam tidak mengekang cinta seseorang karena itu sudah fitrah manusia berlainan jenis. Tetapi islam menganjurkan untuk mengikuti aturan yang ada. Aturan dari yang menciptakan cinta itu yaitu Allah.

Mungkin pendapat temannya Fatimah itu benar bahwa mereka tidak melakukan apa-apa dan bisa jaga diri. Ok-lah anggap saja mereka tidak melakukan hubungan badan seperti suami isteri. Tetapi berkali-kali Fatimah menjelaskan ke teman-temannya bahwa zina itu bukan hanya hubungan badan diluar nikah tapi ada beberapa zina selain itu.

Kemudian Fatimah teringat bunyi hadis: “Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperolehnya hal itu, tidak bisa tidak. Kedua mata itu berzina, zinanya dengan memandang. Kedua telinga itu berzina, zinanya dengan mendengarkan. Lisan itu berzina, zinanya dengan berbicara. Tangan itu berzina, zinanya dengan memegang. Kaki itu berzina, zinanya dengan melangkah. Sementara itu, hati berkeinginan dan beranganangan sedangkan kemaluan yang membenarkan itu semua atau mendustakannya.” (H.R. Muslim: 2657, alBukhori: 6243).
Fatimah pernah membaca kitab dari imam An Nawawi tentang penjelasan hadis diatas bahwasanya: Pada anak Adam itu ditetapkan bagiannya dari zina. Di antara mereka ada yang melakukan zina secara hakiki dengan memasukkan farji (kemaluan)nya ke dalam farji yang haram.

Ada yang zinanya secara majazi (kiasan) dengan memandang wanita yang haram, mendengar perbuatan zina dan perkara yang mengantarkan kepada zina, atau dengan sentuhan tangan di mana tangannya meraba wanita yang bukan mahromnya atau menciumnya, atau kakinya melangkah untuk menuju ke tempat berzina, atau melihat zina, atau menyentuh wanita yang bukan mahromnya, atau melakukan pembicaraan yang haram dengan wanita yang bukan mahromnya dan semisalnya, atau ia memikirkan dalam hatinya. Semuanya ini termasuk zina secara majazi.” (Syarah Shohih Muslim: 16/156157).

Sambil bergumam dalam hati Fatimah hampir dapat memastikan bahwa adakah di antara mereka tatkala berpacaran dapat menjaga pandangan mata mereka dari melihat yang haram sedangkan memandang wanita ajnabiyyah (bukan mahrom) atau lak-ilaki ajnabi (bukan mahrom) termasuk perbuatan yang diharamkan?!.

Salah seorang teman Fatimah berkata bahwa mereka berpacaran untuk proses pengenalan sebalum menuju ke pernikahan. Mereka berpendapat: “Bagaimana mungkin kita menikah tanpa pacaran terlebih dahulu tanpa mengenal masing-masing karekternya masing-masing. Gak mungkin dong ah.” Betul islam juga menganjurkan untuk mengenal pasangannya masing-masing tetapi bukan dengan cara berpacaran. Fatimah juga teringat akan hadis nabi berikut ini: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (bedua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan.” (HR Ahmad).

Fatimah teringat akan kisah seorang sahabat yang datang kepada Rasul. Sahabat ini datang kepada Rasul untuk menyampaikan niatnya bahwa dia ingin menikah. Kemudian Rasululloh bertanya : “ Bagus , tapi apakah kamu sudah mengenali calon mu itu..?” . Kemudian si sahabat rasul ini menjawab : “ Belum ya Rasul..”. Selanjutnya rasul menyuruh dia agar terlebih dahulu mengenalinya. Artinya kita diwajibkan untuk mengenal pasangan kita terlebih dahulu (Ta’aruf) tapi bukan dengan pacaran melainkan dengan aturan yang ada.

Kemudian Fatimah juga teringat akan hadis berikut : “Sekalikali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahromnya.” (H.R. alBukhori: 1862, Muslim: 1338).

Pada dasarnya kita mengenal wanita yang ingin kita nikahi itu bisa melalui mahromnya wanita tersebut. Jadi bukan berdua-duan. Jika misalnya kita ingin meneliti akhlak si wanita tersebut tanpa sepengetahuannya kita boleh mengutus seseorang untuk menelitinya. Misalnya dengan temannya si mahrom wanita tersebut. Atau bisa juga memanfaatkan teknologi yang lagi ngetrend sekarang. Tukar biodatanya masing-masing via email. Juga bisa juga lewat chatting tetapi perlu diingat juga chatting disini bukan tidak ada batasnya. Dilarang chatting bebas artinya harus dalam rambu-rambu yang dibenarkan. Tidak boleh ada kata-kata maksiat atau yang lagi ngetren sekarang dengan menggunakan kata cinta-cintaan, sayang-sayangan dan sejenis itu. Chatting disini dilakukan semata-mata untuk mengenal si wanita tersebut. Saling tukar menukar informasi yang berguna ke proses penganalan tersebut dan tidak mengarah kepada maksiat juga tidak melalaikan serta mengotori hati.

Fatimah tidak mau menyalahkan sepenuhnya persepsi atau pandangan dari teman-temannya itu. Fatimah sadar bahwa yang mempengaruhi mereka adalah media-media ala barat, juga pergaulan ala barat yang banyak digemari sekarang ini. Fatimah menyadari bahwa acara-acara televisi sekarang mulai dari lagu-lagunya, filem-filemnya sampai sinetron-sinetronnya kebanyakan menyajikan cinta berlainan jenis. Dan cinta itu diwujudkan dengan pacaran dan mereka terjebak dalam lingkaran setan pergaulan seperti itu.

Fatimah dalam sholatnya dan dalam kesendiriannya hanya bisa berdoa : “Ya Allah berilah hidayah kepada teman-teman hamba agar bisa merasakan, menikmati indahnya hasil menjaga hati, indahnya menjaga bagian tubuh ini dari hal-hal yang Engkau larang. Tangan ini hanya untuk dijalanMU, Mata ini hanya untuk melihat yg tidak Engkau larang dan segala anggota tubuh ini adalah amanah dariMU, yang engkau perintahkan untuk digunakan dijalanMU. Ya Allah berilah kenikmatan dan keinginan yang luar biasa, bagi hambaMU ini dan teman-teman hambaMU untuk selalu berada dijalanMU dan berilah kebencian yang luar biasa bagi hambaMU ini dan teman-teman hamba dari hal-hal yang Engkau larang. Sesungguhnya Engkau maha mendengar dan maha penyayang bagi hambaMU yang ikhlas memohon kepadaMU amin ya Allah.”

Seraya meneteskan air mata begitulah doa singkat yang selalu di lafazkan oleh Fatimah dalam setiap sholatnya dan dalam kesendiriaannya.



http://www.eramuslim.com/oase-iman/kenapa-sech-kamu-tidak-mau-punya-pacar.htm http://amininoorm.wordpress.com/2011/11/15/kenapa-sih-kamu-tidak-mau-punya-pacar/

OBATNYA MERINDUKAN SI DIA

muslihhm.blogspot.com 

Tak bisa disangkal, manusia akan selalu bersentuhan dengan cinta. Sementara kecintaan memberikan buah kerinduan. Orang yang mencinta akan rindu kepada orang yang dicintainya.
Kerinduan kepada kekasih, seringkali membekaskan duka. Karena sudah tahu bahwa pacaran bukanlah jalan yang halal untuk ditempuh, maka nikahlah satu-satunya yang jadi pilihan. Padahal si pria belum mampu memberi nafkah lahir. Wanita pun masih muda dan dituntut oleh orang tua untuk menyelesaikan sekolah atau meraih gelar. Akhirnya, karena tidak kesampaian untuk nikah, maka pacaran terselubung sebagai jalan keluar karena tidak kuat menahan rasa rindu pada si dia. Lewat chatting, inbox FB atau sms jadi jalur alternatif.

Inilah yang dialami pemuda masa kini.

OBAT PATAH HATI



Patah hati atau bahasa kerennya broken heart itu bisa karena dua hal, diputusin pacar atau ditolak saat ngelamar. Tapi kalo dilihat pergaulan zaman sekarang, sebab patah hati kebanyakan adalah karena pacaran. Dan pacaran adalah gaul yang salah total. Kalo dilihat dari segi apapun, pacaran lebih banyak bikin kesel hati daripada suka hati. Status hubungan pasangan ini ga jelas, ga sah dan yang pasti ga serius. Malah ga sedikit juga sampe melakukan hal-hal yang ga ga, misalnya aja sex pra nikah dengan dalih kesetiaan. Hayo ngaku!!

Ketika para aktivis pacaran itu ditanya tentang keseriusan mereka untuk merit, mereka pasti bilang, “Lihat aja nanti deh, yang sekarang kita jalanin aja dulu.” Kok mau sih digombalin sama pacar kamu? Apalagi mereka masih mengenakan putih-abu abu, putih biru dan ada juga yang putih merah, mana bisa mau dan siap nikah cepet-cepet. Artinya kamu itu sudah sejak awal bikin peluang besar untuk putus dan berlinangan air mata. Iya kan?

Sedangkan Islam ga pernah ngajarin yang namanya aktifitas pacaran. Dan itu berarti Islam memperkecil volume patah hati yang memang perih banget kalo dirasakan.
Buat yang gagal melamar, bukannya aktifitas yang kamu lakukan itu salah. Mungkin pasangan yang menolak kamu ajak menikah, memang pasangan buat kamu dan bukan jodoh kamu. Mungkin dia hanya pelangi indah yang cuma hanya sesaat menghiasi bumi, dia bukan bulan yang selalu setia menemani bumi dalam mengitari matahari. Duile puitis banget ya. Inget, Allah SWT sudah menjamin tiga hal yaitu rizki, ajal dan jodoh. Dan jangan lupa Allah SWT juga berfirman, artinya : “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (TQS. An Nuur: 26)

Resep patah hati

Kalo kamu sudah terlanjur patah hati, karena diputusin sama pacar atau mutusin pacar setelah baca buletin ini (Amiin!). Atau karena lamaranmu ditolak oleh akhwat atau ikhwan yang kamu incer, jangan gelap mata, keep positive thinking. Seperti kata iklan tipi, ambil enaknya aja ya. Kamu masih bisa memilih apa yang akan kamu lakukan kemudian. Dan itu terserah kamu, positif atau negatif.

Kita ngasih alternatif, kalo obat hati itu ada lima, maka obat patah hati juga ada lima :

1. Jangan mendramatisir keadaan

Kalo lagi patah hati, ga perlu terlarut sampe dalem banget. Hindari suasana yang membuat kamu menjadi mellow atau melankolis. Ga usah dulu deh ndengerin lagu-lagu dengan tema patah hati, Patah hati-nya Radja atau Munajat Cinta-nya The Rock. Atau ngelakuin aktifitas lain yang malah bikin sesek hati. Wah, itu sama aja naburin garam sekarung di atas luka. Perih.

2. Putus asa itu dosa

Inget bahwa berputus asa itu dosa. Rasulullah SAW bersabda : “Dosa besar itu adalah mempersekutukan Allah, putus asa dari karunia Allah dan putus harapan dari rahmat Allah.” (HR. Al Bazzar dan Thabrani)

3. Jangan malah menyendiri

Kamu jangan menyendiri.Cari teman-teman yang bisa ngasih masukan dan support yang bisa bikin kita bangkit lagi, bukan yang malah menjerumuskan. Bukannya patah hati malah hilang, malah numpuk kayak TPA sampah.

4. Perbanyak kegiatan positif

Bayang-bayang itu semakin sering nongol apabila kita sering bengong. Biar ga sering bengong, kita harus sering bergerak. Lari marathon bisa. Nyangkul di sawah boleh. Atau kegiatan yang paling positif adalah mengaji tentang Islam, dan gabung dengan aktifitas dakwah. Insya Allah bisa ngelupain pahitnya patah hati, karena Islam itu lebih keren dari yang kita duga.

5. Bersyukur, berusaha dan doa

Kalau kamu putus dari pacar, itu berarti terbebas dari perbuatan mendekati zina. Kamu harus bersyukur. Kalo memang sudah siap nikah, nikah aja ngapain pacaran. Buktiin kamu serius. Kalo belum siap, ya jangan dipaksain nikah. Buat kamu yang ditolak saat melamar, itu tandanya Allah ngasih tahu bahwa akhwat/ikhwan itu ga matching sama kamu. Anda belum beruntung. Coba lagi. Dan jangan lupa berdoa karena Allah pasti akan kasih jalan keluar yang terbaik buat kamu. Pasti deh! (di)


 ===============================================

Ibnu Qayyim rahimahullâh tentang cinta yang terpuji:
“Cinta yang terpuji adalah cinta yang memberikan manfaat kepada orang yang merasakan cinta itu untuk kebahagiaan dunia dan akhiratnya. Cinta inilah yang menjadi asas kebahagiaan. Sedangkan cinta bencana adalah cinta yang membahayakan pelakunya di dunia maupun akhirat dan membawanya ke pintu kenistaan serta menjadikannya asas penderitaan dalam jiwanya.”

===================================================


Al-Qur’an akan usang di hati sejumlah kaum seperti sebuah baju yg akan usang, sehingga jadi robek. Mereka memang membacanya, namun mereka tidak akan merasakan kelezatannya… (HR. Darimi) . Agar hati selalu HIDUP & BISa menikmati Al-Qur’an dlm HATI, banyaklah TOBAT, Tahajud setiap malam, menangislah krn byk cela dan AIB pd diri. JGN sibuk mencari AIB org LAIN, krn HATI AKAN KELAM. Jadilah pembawa BERKAH & RAHMAT bg YG LAIN. SEMOGA BERBAHAGIA

===================================================

Hasan Al Basri pernah ditanya “ Pria manakah yang engkau suruh untuk aku menikahkannya dengan putriku ?”. Hasan Al Basri menjawab : “ Nikahkanlah ia dengan pria yang beriman (dan bertakwa) karena bila ia mencintainya maka ia akan memuliakannya. Dan bila ia tidak mencintainya maka dia tidak akan mendzaliminya

Jika orang lain merasa cukup dengan dunia, maka hendaknya engkau merasa cukup dengan Alloh. Jika mereka berbangga dengan dunia, maka berbanggalah engkau dengan Alloh. Jika mereka merasa tenang dengan orang-orang yang mereka cintai, maka jadikanlah ketenanganmu dengan Alloh. Jika mereka berusaha mengenal dan mendekati raja-raja dan para pembesar mereka untuk meraih kemuliaan dan derajat yang tinggi, maka usahakanlah mengenal dan mencintai Alloh niscaya engkau mendapatkan puncak kemuliaan dan derajat yang tinggi.

Sebagian orang yang zuhud berkata:

“Aku tidak pernah mengetahui ada seorang yang mendengar tentang surga dan neraka kemudian waktu yang dia miliki tidak dia gunakan untuk mentaati Alloh, berdzikir, sholat, membaca al-Qur’an atau berbuat baik.”

Lalu seorang lelaki berkata kepadanya:
“Sesungguhnya aku banyak menangis.”


Orang zuhud tadi berkata:

“Sesungguhnya jika engkau tertawa sedangkan engkau mengakui kesalahanmu, maka hal itu lebih baik dari pada engkau menangis namun engkau mengungkit-ungkit amalanmu. Karena orang yang suka mengungkit amalannya, maka amalannya tidak akan naik melampaui kepalanya.”

Maka lelaki tadi berkata:
“Berikanlah aku nasihat.”


Orang zuhud itu berkata:

“Tinggalkanlah dunia untuk ahli dunia, sebagaimana mereka meninggalkan akhirat untuk ahli akhirat. Jadilah engkau di dunia ini seperti lebah, jika engkau makan, engkau makan sesuatu yang baik, jika engkau memberi makan, engkau memberi makan sesuatu yang baik dan jika engkau jatuh di suatu tempat, engkau tidak akan merusak dan merobeknya.

Diterjemahkan dari kitab “al-Fawaaid” karya al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rohimahulloh, cetakan Daarul ‘Aqiidah halaman 113.



===================================================

“Setiap buku yang berisi penyelisihan terhadap As-Sunnah tidak boleh dilihat dan dibaca. Bahkan yang diizinkan dalam syariat adalah menghapus dan memusnahkan buku tersebut (Ibnul Qoyyim)

Adalah generasi salaf melarang dari bermajelis dengan ahlul bid’ah, melarang melihat buku-buku mereka, dan melarang mendengar ucapan mereka.”” (Al-Adabus Syar’iyyah, 1/251)

buku-buku yang mengandung kedustaan dan bid’ah wajib untuk dimusnahkan dan dipunahkan. Bahkan memusnahkannya lebih utama daripada menghancurkan alat-alat musik serta bejana-bejana yang berisi khamr. Karena bahaya buku-buku ini lebih besar daripada bahaya alat-alat musik. (Ibnul Qoyyim)

“Dan bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu (ulama), jika kalian tidak mengetahui.” (Al-Anbiya: 7)

“Serulah manusia kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasehat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (An-Nahl: 125)

===============================================

-Rasulullah bersabda: ‘Barang siapa yang bersedekah senilai satu butir kurma dari penghasilan yang halal (dan tidak ada sedekah yang naik dilaporkan kepada Allah kecuali dari penghasilan/harta yang halal) maka Allah akan menerima dengan tangan kanan-Nya lalu merawatnya untuk kalian, sebagaimana kalian merawat anak kudanya. Akhirnya, pahala sedekah tersebut menjadi semisal gunung.‘
http://www.facebook.com/Ulumul.Quran

Suatu hari Dzun Nun rahimahullah ditanya: “Apa tanda-tanda ikhlas?”

Ia menjawab: “Jika di dalam amalmu tidak ada keinginan untuk dipuji makhluk atau kekhawatiran akan kecaman makhluk, maka Anda adalah orang yang ikhlas, insya Allah”
(Disebutkan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya)


Para ulama sunnah sangat menjunjung tinggi muru’ah/kehormatan sampai2 di antara mereka menganggap orang yg bermesraan dg istri di muka umum sbgai orang yg tdk punya kehormatan.

“Mencium wanita, meskipun itu mahramnya di malam kebahagiannya, dengan dilihat banyak orang atau wanita lain telah menggugurkan status kehormatannya dalam agama.” (Al-Bajirami)


Ulama yang tidak mau mengamalkan ilmunya, ceramahnya akan meleset dari hati pendengarnya, seperti tetesan air yang meleset dari batu yang halus. (Malik bin Dinar)
“Tinggalkanlah perdebatan yang bisa memfitnah hati, menumbuhkan dendam, mengeraskan hati, dan menipiskan kehati-hatian dalam berbicara dan berbuat.”
(Al-Auza’i -rahimahullaah-)


Barangsiapa mencintai dunia dan senang padanya, maka perasaan takut akhirat akan tercabut dari hatinya. (Sufyan Ats-Tsauri)

“Jika Anda melihat seorang yang keras kepala, suka berdebat dan bangga pada pendapatnya sendiri, sempurnalah kerugiannya.” (Bilal bin Sa’ad)

=> disebutkan Abu Nu’aim -rahimahullah- dalam حلية الأولياء


Abu Mu’awiyyah Al-Aswad rahimahullah berkata, “Semua makhluk -yang baik maupun yang jahat- bekerja untuk mendapatkan sesuatu yg lebih kecil daripada sayap lalat.” Lalu, seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang lebih kecil daripada sayap lalat itu?” Ia menjawab, “Dunia”.

Salah seorang tabi’in, Makhul rahimahullah berkata, “Aku pernah melihat seseorang mengerjakan shalat. Setiap kali ruku’ dan sujud ia selalu menangis. Aku “menuduhnya” berbuat riya’ dengan tangisannya itu. Kemudian, aku tidak bisa menangis (saat beribadah) selama setahun. >>> nasehat bagi kita pula agar tidak mudah menuduh orang lain berbuat riya’, walau ada “alamat” riya secara dzahir.

Orang yang beriman memiliki empat ciri, yaitu ucapannya adalah dzikir, diamnya adalah tafakkur, pandangannya adalah mengambil pelajaran, dan ilmunya adalah kebajikan. (lih: dalam Hilyatul Auliya’ li Abi Nu’aim Al-Asfahani, X/217)

Hati yang bersih di dalam baju yang kotor lebih baik daripada hati yang kotor di dalam baju yang bersih. (Abu Muslim Al-Khaulani)

Ibrahim bin Khawwas: “Obat hati ada lima: membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, mengosongkan perut, shalat malam, menghiba kpd Allah di penghujung malam, dan bergaul dengan orang-orang shalih.”

Belajarlah niat, karena niat lebih berat daripada amal. (Yahya bin Abi katsir)

Jika seseorang mencari ilmu untuk diamalkan, ilmunya itu akan melunakkan hatinya. Jika ia mencari ilmu bukan untuk diamalkan, ilmunya itu akan menambah kesombongannya. (Malik bin Dinar)

Dulu, ada ungkapan yg menyatakan, “Tahapan pertama ilmu adalah diam. Kedua, mendengarkan dan menghafalkan. Ketiga, mengamalkan. Keempat, menyebarluaskan dan mengajarkan. (Sufyan Ats-Tsauri)

“Setiap tukang tidak bisa mengerjakan pekerjaannya dengan kecuali dengan alat. Dan alatnya Islam adalah ilmu. Jika Anda melihat orang berilmu yg tidak hati-hati terhadap ilmunya, maka Anda tidak boleh mengambil ilmu darinya. (Shalih bin Mahran)

Kami pernah mendatangi seorang ulama, lalu kami lebih suka mempelajari etikanya daripada ilmunya (lih: Hilyatul Auliya’, Abu Nua’im, III/362)

Seseorang cukup berilmu bila ia takut kepada Allah. Seseorang cukup bodoh bila ia kagum pada amalannya sendiri.(Masruq, salah seorang tabi’in)

Ilmu bukanlah apa yg dihafal, melainkan apa yang bermanfaat. (Imam Asy-Syafi’i)

Barangsiapa mencari ilmu untuk mencari ridha Allah azza wa jalla, Dia akan memberinya sesuatu yang bisa mencukupinya. (Ibrahim An-Nakha’i)

Salaf bernama Mujahid pernah berkata, “Andaikata seorang muslim tidak mendapatkan apa-apa dari saudaranya selain bahwa rasa malunya kepadanya mencegahnya dari pebuatan maksiat, niscaya hal tersebut sudah cukup baginya.”

Aku menemukan bahwa sikap menunda-nunda adalah salah satu prajurit iblis yang telah banyak membinasakan makhluk Allah (Shilan bin Farwah)

Abdullah bin Munazil pernah berkisah bahwa ketika Hamdun bin Qashshar rahimahullah dimaki-maki oleh seseorang, ia justru diam saja dan berkata, “Akhi.., betaapun Engkau menjelek-jelekkanku sejelek-jeleknya, Engkau belum menjelek-jelekkanku seperti kejelekanku di mataku sendir” (Faidah dari kitab Hilyah)

Wuhaib bin Ward pernah ditanya, “Bisakah orang yg ahli maksiat merasakan nikmatnya ibadah? Ia menjawab, “Tidak”. Bahkan orang yg memikirkan maksiat pun tidak bisa merasakannya.”

Abu Sulaiman Ad-Darani, “Kenikmatan yang dirasakan ahli ibadah dengan ibadahnya, lebih besar daripada kenikmatan yang dirasakan ahli maksiat dengan kemaksiatannya.

Orang yang berakal bukanlah orang yg mengetahui yg baik dan buruk, melainkan orang yg jika melihat kebaikan, ia mengikutinya. Jika melihat keburukan, ia menjauhinya (Sufyan bin Uyainah)

 ===============================================

utamakanlah sholat lima waktu.

Jika demi cinta, gunung kan kau daki dan laut kan kau sebrangi.


maka demi Alloh, masjid harus didatangi, kewajiban harus ditunaikan, sholat harus didirikan…! Mari kita menuju kemenangan dunia dan Akherat dengan selalu menjaga sholat di awal waktunya…! (Wahed Deen El Banjary)


Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan bergaul dengan orang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang bermanfaat lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbincang yang buruk (HR. Al-Hakim)

Teman sejati mau mengerti saat kita berkata “aku lupa”, menunggu selamanya saat kita berkata “tunggu sebentar”, tetap tinggal saat kita berkata “tinggalkan aku sendiri”, dan membukakan pintu meski kita belum mengetuk dan berkata “bolehkah aku masuk?” (www.alsofwah.or.id)

Pandanglah ke depan untuk menyambut hari esok, tengoklah ke belakang untuk mengoreksi diri. Usahakan yang terbaik semampu dirimu agar tak menyesal di kemudian hari. Semoga istiqomah! (www.majalah-elfata.com)

Untuk apa menghiba cinta/perhatian/belas kasihan dari manusia, pasti tak ada gunanya. Cukuplah menghiba kepada Allah, tak dikecewakan. -K. H. Abdullah Gymnastiar—

Ibnul Qayyim berkata: “Kebanyakan anak menjadi rusak adalah disebabkan orang tuanya, karena tidak adanya perhatian kepada mereka, serta tidak diajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya.”

Jika sedang sendiri janganlah merasa sepi, ada Allah yang mengawasi. Jika sedih jangan dipendam dalam hati, ada Allah tempat berbagi. Jika susah jangan menjadi pilu, ada Allah tempat mengadu. Jika gagal janganlah putus asa, ada Allah tempat meminta. Jika bahagia janganlah menjadi lupa, ada Allah tempat memuja. Ingatlah Allah selalu, niscaya Allah akan mengingatmu. (www.alsofwah.or.id)

“Jika Allah menahan pemberian-Nya padamu, maka pahamilah bahwa itu adalah suatu (kemuliaan) untukmu selama kau pertahankan keislaman dan keimananmu, higga segenap apa yang dilakukan Allah kepada dirimu menjadi karunia pula kepadamu”.(Ibnu Athaillah)
“orang yang mendalam cintanya pada al-quran, tidak akan ada tempat dihatinya untuk mengandrungi musik dan nyanyian.”

-Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullaahu Ta’aalaa dalam kitabnya, Ighootsatul Lahfan

Ketika kesalahan tak sengaja dilakukan. Ketika beban dosa terasa menghimpit badan. Ketika rasa bersalah mengalir ke seluruh pembuluh darah. Ketika penyesalan menenggelamkan diri dalam air mata kesedihan. Apa yang dapat dilakukan untuk meringankan beban jiwa ini? Rasulullah bersabda, “Ikutilah kesalahan dengan amal baik, niscaya ia akan menghapus dosa-dosamu.”

Jikalau kalbu mencintai dunia melebihi cinta kepada akherat maka keimanan seseorang akan melemah dan pada akhirnya akan merasa berat untuk menjalankan ibadah. (www.majalah-elfata.com)

Jangan cemas dan jangan berputus asa jika saat ini engkau sedang mengalami kesulitan hidup. Seberat dan sesulit apapun kesulitan yg sedang kau hadapi pasti ada jalan keluarnya.

Hadapilah semuanya dgn tenang dan yakin sepenuhnya bahwa Allah pasti akan memberi jalan keluar.


Yakinlah..PertolonganNya akan segera datang,


Dan…. Kesabaran adalah pembuka jalan bagi tibanya pertolongan Allah..


 ===============================================

Duhai diri…Di POSISI manakah HIDUP ingin kau AKHIRI?…
> Sedang MENGINGAT Allah, atau saat LALAI pada-Nya?
> Saat menjalankan AMANAH, atau saat mengKHIANATI-Nya?
> Saat TERSENYUM BAHAGIA, atau SEDIH MERANA?

Ingatlah Pesan Nabi saw. “Orang yang cerdas adalah orang yang selalu melakukan introspeksi diri dan beramal untuk menyiapkan hari setelah kematiannya” (HR. Tirmidzi

 ===============================================

Ibnu Qayyim rahimahullâh tentang cinta yang terpuji:
“Cinta yang terpuji adalah cinta yang memberikan manfaat kepada orang yang merasakan cinta itu untuk kebahagiaan dunia dan akhiratnya. Cinta inilah yang menjadi asas kebahagiaan. Sedangkan cinta bencana adalah cinta yang membahayakan pelakunya di dunia maupun akhirat dan membawanya ke pintu kenistaan serta menjadikannya asas penderitaan dalam jiwanya.”

 ===============================================

Berjilbab adalah perintah Allaah kepada semua muslimah, memiliki niat untuk berjilbab adalah mulia, tapi harus dilaksanakan sesuai tata cara-Nya.

“mau model apa aja yang penting saya pake jilbab” kedengarannya seperti “mau 1,2, atau 3 raka’at yang penting saya shalat shubuh”

Bisakah seperti itu?

Berjilbablah sebagaimana yang dicontohkan oleh para istri2 Rasulullaah dan shahabiyyat, in syaa’Allaah lebih selamat dunia akhirat.


 ===============================================

Referensi : 
Sumber: ISLAMUDA
http://amininoorm.wordpress.com/2011/11/12/obat-patah-hati/
http://www.facebook.com/MuslimTeenagers
http://gugundesign.wordpress.com/2008/01/10/merasa-cukup-dengan-alloh-2/
http://www.facebook.com/Toko.Imam.Muslim
http://www.facebook.com/MuslimTeenagers
http://www.facebook.com/MediaIslamOnline









CINTA SEJATI

Apakah Mengenal Pasangan Harus Lewat Pacaran
muslihhm.blogspot.com 
Sebagian orang menyangka bahwa jika seseorang ingin mengenal pasangannya mestilah lewat pacaran. Kami pun merasa aneh kenapa sampai dikatakan bahwa cara seperti ini adalah satu-satunya cara untuk mengenal pasangan. Saudaraku, jika kita telaah, bentuk pacaran pasti tidak lepas dari perkara-perkara berikut ini.

Pertama:
Pacaran adalah 
jalan menuju zina

Yang namanya pacaran adalah jalan menuju zina dan itu nyata. Awalnya mungkin hanya melakukan pembicaraan lewat telepon, sms, atau chating. Namun lambat laut akan janjian kencan. Lalu lama kelamaan pun bisa terjerumus dalam hubungan yang melampaui batas layaknya suami istri. Begitu banyak anak-anak yang duduk di bangku sekolah yang mengalami semacam ini sebagaimana berbagai info yang mungkin pernah kita dengar di berbagai media. Maka.....muslihhm.blogspot.com