Minggu, 30 September 2012

TAFSIR SURAT AL-BAQOROH AYAT 153-157

بسم الله الر حمن الرحيم


يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْن
(153) Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat; sesung-guhnya Allah adalah beserta  orang-orang yang sabar.

 وَلاَ تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُقْتَلُ فِيْ سَبيْلِ اللهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَ لَكِنْ لاَّ تَشْعُرُوْن
(154) Dan janganlah kamu katakan ter­hadap orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa mereka mati. Bahkan mereka hidup, akan tetapi kamu tidak merasa.

 وَ لَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَ الْجُوْعِ وَ نَقْصٍ مِّنَ الْأَمَوَالِ وَ الْأنْفُسِ وَ الثَّمَرَاتِ وَ بَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ
(155) Dan sesungguhnya akan Kami beri kamu percobaan dengan se­suatu dari ketakutan dan kelaparan dan kekurangan dari harta­ benda dan jiwa-jiwa dan buah buahan; dan berilah khabar yangmenyukakan kepada orang yang sabar.

 اَلَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ قَالُوْا إِنَّا ِللهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
(156) (Yaitu) orang-orang yang apabila menimpa kepada mereka suatu musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kita ini dari Allah, dan sesungguhnya kepadaNya­lah kita semua akan kembali.

 أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَ رَحْمَةٌ وَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ
(157) Mereka itu, akan dikurniakan atas mereka anugerah-anugerah dari Tuhan mereka dan rahmat, dan mereka itulah orang-orang yang akan mendapat petunjuk.        

Menghadapi Percobaan Hidup
Pada ayat-ayat yang di atas telah dijanjikan Tuhan bahwa nikmat itu akan terus-menerus disempurnakan, Nikmat pertama dan utama ialah diutusnya Rasulullah s.a w. menjadi Rasul Beliaulah yang akan memimpin perjuangan selanjutnya. Sebab itu tetaplah mengingat Allah supaya Allah ingat pula akan kamu dan syukurilah nikmatNya, jangan kembali kepada kufur, yaitu melupa­kan jasa dan tidak mengingat budi
Dengan perubahan kiblat setelah berasa di Madinah 16 atau 17 bulan kamu telah dibawa melangkah lebih maju Akhirnya kelak kemenangan yang gilang-gemilang akan diberikan Tuhan kepada kamu. Tetapi adalah satu syarat utama yang wajib kamu penuhi. Sebab perobahan-perobahan besar dan kejadian yang akan diberikan Tuhan kelak kepadamu itu bukanlah terletak di atas talam, perak, lalu dihidangkan saja kepadamu. Melainkan amat bergantung kepada usaha dan semangat kegiatanmu sendiri. Maka peristiwa-peristiwa yang dah­syat akan bertemulah oleh kamu dalam Shirathal Mustaqim yang kamu lalui itu. Syarat utama itu ialah :
 يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْن
"Wahai orang-orang yang beriman ! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (ayat 153).
Maksud ini adalah maksud yang besar. Suatu cita-cita yang tinggi. Mene­gakkan kalimat Allah, memancarkan tonggak Tauhid dalam alam. Memban­teras perhambaan diri kepada yang selain Allah. Apabila langkah ini telah dimulai, halangannya pasti banyak, jalannya pasti sukar. Bertambah mulia dan tinggi yang dituju, bertambah sukarlah dihadapi. Oleh sebab itu dia meminta semangat baja, hati yang teguh dan pengorbanan-pengorbanan yang tidak mengenal lelah. Betapapun mulianya cita-cita, kalau hati tidak teguh dan tidak ada ketahanan, tidaklah maksud akan tercapai. Nabi-nabi yang dahulu daripada Muhammad s.a.w: semuanya telah menempuh jalan itu dan semuanya meng­hadapi kesulitan.
Kemenangan mereka hanya pada kesabaran. Maka kamu orang yang telah menyatakan iman kepada Muhammad wajiblah sabar, sabar menderita, sabar menunggu hasilnya apa yang dicita-citakan. Jangan gelisah tetapi hendaklah tekap hati.
Sampai seratus satu kali kalimat sabar tersebut dalam al-Quran. Hanya dengan sabar orang dapat mencapai apa yang dimaksud. Hanya dengan sabar orang bisa mencapai derajat Iman dalam perjuangan. Hanya dengan sabar menyampaikan nasihat kepada orang yang lalai. Hanya dengan sabar kebena­ran dapat ditegakkan.
Lebih 25 tahun Ya'kub sabar menunggu pulang anaknya yang hilang, sampai berputih mata; akhirnya anaknya Yusuf kembali juga. Tujuh tahun Yusuf menderita penjara karena fitnah; dengan sabarnya dia jalani nasibnya; akhirnya dia dipanggil buat menjadi Menteri Besar.
Bertahun Ayub menderita penyakit , sehingga tersisih dari anak isteri; akhirnya penyakitnya disembuhkan Tuhan dan setelah pulang ke rumah didapatinya anak yang 10 telah menjadi20, karena semua sudah kawin dan sudah beranak pula. Ibrahim dapat menyem­purnakan kalimat-kalimat ujian Tuhan karena sabar. Demikianlah Musa de­ngan Bani-Israil. Ismail membangun angkatan Arab yang baru. Isa Almasih dengan Hawariyin semuanya dengan sabar.
Ada Nabi yang nyaris kena hukuman karena tidak sabar; yaitu Nabi Yunus. Ditinggalkannya kaumnya karena seruannya tidak diperdulikan. Maka buat melatih jiwa dia ditakdirkan masuk perut ikan beberapa hari lamanya. Tetapi keluar dari sana dia membangun diri lagi dengan kesabaran.
Sebab itu sabarlah perbentengan diri yang amat teguh.
Sabar memang berat dan sabar memanglah tidak terasa apa faedahnya jlka bahaya dan kesulitan belum datang. Apabila datang suatu marabahaya atau suatu musibah dengan tiba-tiba, dengan tidak disangka-sangka, memang tim­bullah perjuangan dalam batin. Perjuangan yang amat hebat. Tarik menarik di antara kegelisahan dengan ketenangan.
Kita gelisah, namun hati kecil kita sendiri tidaklah senang akan kegelisahan itu. Suatu waktu orang yang belum juga menang ketenangannya atas kegelisa­hannya bisa jadi memandang gelap hidup ini, sehingga dari sangat gelapnya mau rasanya mati saja. Mungkin dengan mati kesulitan itu akan habis, lalu dia membunuh diri.
Seseorang yang tengah diperiksa polisi karena suatu tuduhan kejahatan, padahal dia merasa tidak bersalah, ada yang silap sehingga dia ingin hendak membunuh diri. Katanya setelah saya mati nanti, mereka akan dapat membuktikan juga bahwa saya tidak salah dalam hal ini. Lantaran itu dalam sangatnya pemeriksaan itu, polisi menjaga benar-benar supaya barang-barang yang tajam, sampai pisau silet penculcur janggut, dijauhkan daripadanya.
Sudah kita katakan, hati kecil yang di dalam tidaklah suka akan kegelisahan itu. Maka hati kecil yang di dalam itulah yang harus ditenangkan. Sebab itu dalam saat yang demikian sabar tadi tidak boleh dipisahkan dengan shalat! Ingat Tuhan! Hati kecil yang telah dikepung oleh kegelisahan dan kekacauan itu harus dibebaskan dari kepungan itu. Lepaskan dia menghadap Tuhan; Allahu Akbar! Allah Maha Besar !
Mengapa aku mesti gelisah? Padahal buruk clan baik adalah giiiran masa yang pasti atas diriku, bukankah dahulu dari ini aku disenangkanNya? mengapa aku demikian bodoh, sampai terangan-angan dalam perasaan hendak mem bunuh diri? Bukankah dengan membunuh diri keadaanku di akhirat, di sebe­rang maut itu, akan lebih lagi menghadapi kemurkaan Tuhan?
Allahu Akbar! Allah Maha Besar!
Segala urusan dunia ini adalah kecil belaka. Kesulitan yang aku hadapipun soal kecil saja bagi Tuhan, akupun akan memandangnya kesulitan yang kecil saja. Aku memandangnya soal besar, sebab aku tidak insaf bahwa jiwaku kecil. Aku gelisah lantaran kesulitan. Aku mesti mencari di mana sebabnya, kemu­dian ketahuanlah sebabnya. Yaitu ada sesuatu selain Allah yang mengikat hatiku. Mungkin hartabenda, mungkin kemegahan dunia, mungkin pangkat dan kedudukan dan mungkin juga yang lain. Sehingga aku lupa samasekali tujuan hidupku yang sebenarnya, yaitu Tuhan dengan keredhaanNya, sebab itu aku mesti shalat.
Maka apabila ketenangan telah diperteguh dengan shalat, kemenangan pastilah datang. Sabar dan shalat; keduanya mesti sejalan. Apabila kedua resep ini telah dipakai dengan setia dan yakin, kita akan merasa bahwa kian lama hijab dinding kian terbuka. Berangsur-angsur jiwa kita terlepas dari belenggu kesulitan itu sebab Tuhan telah berdaulat dalam hati kita.
Waktu itupun baru kita ketahui bahwa kita terjatuh ke dalam kesulitan tadi, ialah karena pengaruh yang lain telah masuk ke dalam jiwa; terutama syaitan, Yang ingin sekali kita hancur. Maka berangsurlah naik sari cahaya iman kepada waja. Barulah berarti kembali segala ayat-ayat yang kita baca, sampai huruf-huruf dan baris dan titiknya. Kita telah kuat kembali dan kita telah tegak. Kita telah mendapat satu kekayaan, yang langit dan bumipun tidak seimbang
buat menilai harganya. Di sinilah terasa ujung ayat:
إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْن
"Sesungguhnya Allah adalah beserta orang-orang yang sabar." (ujung ayat 153).
Apakah yang engkau takutkan kepada hidup ini, kalau Allah telah men­jamin bahwa Dia ada beserta engkau? Orang yang ditimpa oleh suatu percobaan yang membuat jiwa jadi gelisah, kemudian berpegang teguh kepada ayat ini, membenteng diri dengan sabar dan shalat, dengan berangsur timbullah fajar harapan dalam hidupnya. Kelihatan dari luar dia dalam kesepian, padahal dia merasa ramai, sebab dia bersama Tuhan. Belenggu biar dipasang pada tangannya, namun jiwanya merasa bebas. Pagar besi membatasi jasmaninya dengan dunia luar, tetapi ayat-ayat al-Quran membawa jiwanya membumbung naik melintas ruang angkasa dalam dia mengerjakan shalat. Lantaran ini ketakutanpun hilanglah dan keberanian timbul.
Kalau mati dalam menegakkan cita-cita, ataupun terbunuh, hati bimbang tidak ada lagi. Sebab bagi orang yang telah merasa.dirinya dekat dengan Allah, batas di antara hidup dengan mati tidak ada lagi. Hidup itu sendiri tidak ada artinya kalau jauh dari Tuhan.
Maka datanglah sambungan ayat:
 وَلاَ تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُقْتَلُ فِيْ سَبيْلِ اللهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَ لَكِنْ لاَّ تَشْعُرُوْن
"Dan janganlah kamu katakan terhadap orang yang terbunuh pada jalan Allah bahwa mereka mati. Bahkan mereka hidup, akan tetapi, kamu tidak merasa." (ayat 154).
Dengan ayat ini, kemenangan jiwa karena sabar dan shalat tadi diberi lagi pengharapan baru. Pengharapan yang langsung diberi Tuhan. Jangan takut dan jangan gelisah jika terbunuh atau mati karena menegakkan jalan Allah, karena yakin bahwa yang ditempuh adalah jalan yang benar. Jangan gelisah. Sebab orang yang mati pada menjalani jalan Allah itu bukanlah mati, tetapi hidup terus. Cuma kamu juga yang tidak merasa. Tetapi kalau kamu pelajari dengan seksama, akhirnya kamupun akan merasakan bahwa mereka masih hidup; hidup terus.
Bermacam tafsir ahli tafsir tentang makna hidupnya orang yang terbunuh atau menjadi kurban dari menegakkan jalan Allah itu.
Kata setengahnya, walaupun badannya telah hancur dalam kubur namun namanya tetap hidup. Namanya itu memberikan ilham atau inspirasi kepada pejuang yang meneruskan citanya. Kata setengahnya pula, badannya yang mati, namun fikiran dan citanya, terus hidup. Karena apalah arti hidup kalau bukan karena cita-cita ? Jasmaninya hilang namun isi citanya terus hidup dan dilanjutkan oleh yang datang di belakang. Bukankah manusia itu datang silih berganti, dan yang mereka perjuangkan ialah cita-cita yang tidak pernah mati?
Ada pula yang menafsirkan bahwa Roh manusia itupun mempunyrai bentuk halus serupa dengan bentuk tubuhnya. Maka jika tubuh telah hancur Roh itu tetap ada dalam kehidupannya yang menyerupai ether. Maka bentuk Roh yang bersifat ether itu tidak berubah, tidak berganti-ganti dan tidak musnah. Sedang tubuh kasar manusia, walaupun sebelum dia mati tetap berganti dan berubah. Kekuatan ether itu kata ahli ilmu alam dapat mempengaruhi tubuh yang lain, baik yang kasar ataupun yang halus; sedangkan ruang yang luas ini diisi selalu oleh ether. Sehingga dengan perantaraan ether itulah cahaya bisa menembus dari matahari ke dalam tingkat-tingkat udara.
Demikian kata ahli-ahli tafsir modern Dalam satu Hadits riwayat.Muslim ada pula mengatakan bahwa Roh orang-orang yang syahid itu diletakkan dalam tenggorokan burung yang hijau dalam syurga, artinya dipelihara baik-baik.
Demikianlah bunyi penafsiran. Tetapi apabila kita berpegang teguh dengan mazhab Salaf, tidaklah layak kita menetapkan salah satu dari tafsir itu. Bahkan kita langsung memegang apa yang dikatakan al-Quran; orang yang terbunuh pada.jalan Allah tidaklah mati, melainkan hidup. Malahan di ayat lain, yaitu Surat ali Imran (Surat 3) ayat 160, ditegaskan lagi bahwa mereka terus diberi rezeki.
Bagaimana hidupnya? Di mana dia sekarang? Bagaimana pula macam rezekinya? Tidaklah dapat kita ketahui, tetapi kita percaya.
Ahli-ahli Tasauf mencoba juga memecahkan soal ini dengan jalan ridha; Imam Ghazali dalam kitabnya Bidayatul Hidayah menerangkan pengalaman seorang ayah yang shalih yang anaknya mati syahid dalam satu peperangan. Pada suatu hari dia mengalami, puteranya itu datang dan singgah ke rumahnya dalam keadaan dia setengah bermimpi. Ayahnya bertanya mengapa pulang? Anak itu menjawab bahwa dia hanya singgah sebentar ke rumah menziarahi ayahnya, sebab dia beberapa teman Syuhada,. turun ke dunia kita ini karena ikut bersama-sama menyembahyangkan jenazah Khalifah Umar bin Abdu! Aziz. Dan akan segera kembali ke alamnya. lbnul Qayyim banyak juga men­ceritakan hal-hal serupa ini dalam kitabnya yang bernama al-Arwah.
Pendeknya hal yang begitu telah termasuk alam lain, yang.kita percayai. Tentang bagaimana keadaan yang sebenarnya, apakah di dekat kita ini penuh dengan Roh-roh Syuhada, atau ether. Roh orang mati syahid, kita tidak tahu. Karena hidup kita yang sekarang ini masih terkongkong oleh alam Syahadah, alam nyata.
Kemudian itu Tuhan teruskan lagi peringatanNya kepada kaum mu'min:
 وَ لَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ
"Dan sesungguhnya akan Kami beri kamu percobaan dengan sesuatu." (pangkal ayat 155).
Dengan sesuatu, yaitu dengan aneka warna,
 مِّنَ الْخَوْفِ
"dari ke takutan," yaitu ancaman-ancaman musuh atau bahaya penyakit dan sebagai­nya, sehingga timbul selalu rasa cemas dan selalu terasa ada ancaman. Yang berlaku di zaman Nabi ialah ancaman orang musyrik dari kota Makkah, ancaman kabilah-kabilah Arab dari luar kota Madinah yang selalu bermalaud hendak menyerang Madinah, ancaman fitnah orang Yahudi yang selalu meng­intai kesempatan dan ancaman orang munafik, dan ancaman bangsa Rum yang berkuasa di utara waktu itu.
 وَ الْجُوْعِ
"Dan kelaparan" termasuk kemiskinan sehingga persediaan makanan sangat berkurang.
 وَ نَقْصٍ مِّنَ الْأَمَوَالِ
"Dan kekurangan dari hartabenda."
Sebab umumnya sahabat-sahabat Rasulullah yang pindah dari Makkah ke Madinah itu hanya batang tubuhnya saja yang keluar dari sana; hartabenda tidak bisa dibawa;
 وَ الْأنْفُسِ
"dan jiwa-jiwa, "
ada yang kematian keluarga, anak dan isteri dan bapak, sehingga hidup melarat terpencil kehilangan keluarga di tempat kediaman yang baru;
 وَ الثَّمَرَاتِ
"dan buah-buahan," karena tidak lagi mempunyai kebun­ kebun yang luas, terutama pohon kurma, yang menjadi makanan pokok pada masa itu. Semuanya itu akan kamu derita ! .
Demikian sabda Tuhan. Tetapi derita itu tidak lain ialah karena menegak­kan cita-cita.
 وَ بَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ
"Dan berilah khabar yang menyukakan kepada orang-orong yang sabar." (ujung ayat 155).
Setelah di ayat 153 tadi dinyatakan kepentingan sabar dan shalat, di ayat ini diulangi lagi bahaya-bahaya, percobaan dan derita yang akan mereka tempuh. Disebut pahitnya sebelum manisnya. Orang yang akan menempuh derita itu hendaklah sabar.
Hanya dengan sabar semuanya itu akan dapat diatasi. Karena kehidupan itu tidaklah membeku demikian saja. Penderitaan dirasai dengan merata. Nabi Muhammad s.a.w. sendiri dalam peperangan Uhud kehilangan pamannya yang dicintainya Hamzah bin Abdul Muthalib. Maka apabila mereka sabar menahan derita, selamatlah mereka sampai kelak ke seberang cita-cita. Tidak ada cita-cita yang akan tercapai dengan tidak memberikan pengorblnan. Berilah khabar kesukaan kepada mereka yang sabar itu.
 اَلَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ قَالُوْا إِنَّا ِللهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
"(Yaitu) orang -orang yang apabila menimpa kepada mereka suatu musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kita ini dari Allah, don sesungguh­nya kepadaNyalah kita semua akan kembali." (ayat 156).
Ucapan yang begini mendalam, tidaklah akan keluar dari dalam lubuk hati kalau tidak menempuh latihan. Khabar kesukaan apakah yang dijanjikan buat mereka ? 
 أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَ رَحْمَةٌ
"Mereka itu, akan dikurniakan atas mereka anugerah-anugerah dari Tuhan mereka, dan rahmat. "(pangkal ayat 157).
Inilah khabar kesukaan untuk mereka. Pertama mereka akan diberi kurnia anugerah: dalam bahasa aslinya shalawat. Dari kata shalat. Kalau kita makhluk ini yang mengerjakan shalat terhadap Allah, artinya telah berdoa dan shalat. Kalau kita mengucapkan shalawat kepada Rasul, ialah memohon, kepada Allah agar Nabi kita Muhammad s.a.w. diberi kurnia dan kemuliaan. Tetapi kalau Tuhan Allah yang memberikan shalawatNya kepada kita, artinya ialah anugerah perlindungan­Nya. Kemudian itu menyusul Rahmat, yaitu kasih-sayang.
 وَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ
"Dan mereka itulah orang-orang yang akan mendapat petunjuk." (ujung ayat 157).
Maka dengan ketabahan hati menghadapi, lalu mengatasi kesukaran dan kesulitan dan derita, untuk menempuh lagi penderitaan lain, perlindungan Tuhan datang, rahmatNya meliputi dan petunjukpun diberikan. Jiwa bertambah lama bertambah teguh, karena sudah senantiasa digembleng dan disaring oleh zaman.
Dengan ini diberikan ketegasan kepada kita, apakah keuntungan yang akan kita dapat kalau kita tahan menderita dan sanggup mengatasi penderitaan itu, atau lulus dari dalamnya dengan selamat? Pertama Tuhan memberikan ShalawotNya kepada kita, artinya bahwa kita dipelihara dan dijamin. Kedua kita diberi limpahan Rahmat, yaitu kasih-sayang yang tidak putus-putus. Tidak cukup hanya sehingga diberi Shalowat dan Rahmat, bahkan dijanjikan lagi dengan yang lebih mulia, yaitu diberi petunjuk di dalam menempuh jalan bahagia ini, sehingga sampai dengan selamat kepada yang dituju.
Ini telah terjadi pada kehidupan Nabi-nabi, setiap mereka lepas dari satu ujian Mihnah , mereka naik guna mencapai anugerah Minhah yang baru Demikian juga kehidupan ulama-ulama yang menerima warisan Nabi-nabi.
Semua ayat ini rnasihlah dalam rangka peralihan kiblat itu; intisarinya tuntunan dalam perjuangan. Dan Islam tidaklah akan tegak, kalau Roh jihad ini tidak selalu diapikan pada diri dan pada ummat. Dan kesulitan, kesukaran, kekurangan sebagai Yang disebutkan Allah itu akan selaluiah ada. Bahagialah ummat yang dapat mengambil pedoman daripada ayat-ayat ini.
Mungkin timbul rasa musykil dari pertanyaan orang: "Mungkinkah kita mengelakkan diri dari perasaan sedih atau susah karena ditimpa musibah?" Jawabnya sudah pasti, yaitu rasa sedih dan susah mesti ada. Sedangkan Nabi s.a.w. kematian puteranya Ibrahim bersedih juga dan titik juga airmata beliau. Bahkan tahun kematian isteri beliau yang tua, Khadijah, beliau namai Tahun Duka. Rasa yang demikian tidaklah dapat dihilangkan, karena dia adalah sifat jiwa. Dia timbul dari rasa belas-kasihan, atau rahmat.
Maka perasaan yang demikian, kalau tidak dikendalikan, itulah yang kerapkali membawa jiwa mera­na. itulah yang diperangi dengan sabar, sehingga akhirnya kesabaran menang, dan kesedihan itu tidak sampai merusak diri. Adapun kalau ada orang yang mati anaknya* tidak sedih hatinya, dan dia gembira-gembira saja, itu adalah orang yang tidak berperasaan. Orang yang berperasaan ialah yang memang tergetar hatinya karena suatu malapetaka, tetapi dengan sabar dia dapat mengendalikan diri, dan diapun menang. Inilah yang dirnaksudkan.
Kadang-kadang berkesan pada wajahnya peperangan batin itu, entah kurus badannya, bahkan sampai setengah buta matanya, sebagai Nabi Ya'kub kehilangan Yusuf, dan kemudian hilang pula Benyamin, namun beliau tetap berkata:
"Sabar yang indah, dan Allahlah tempat memohon pertolongan." (Yusuf: 83)
Berperang dalam batin, dan menang dalam peperangan itu. Itulah dia bahagia.




Referensi :
http://kongaji.tripod.com/myfile/al-baqoroh_ayat_153-157.htm



 

TAFSIR SURAT AL-BAQOROH AYAT 148-152

بسم الله الر حمن الرحيم



وَ لِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللهُ جَمِيْعًا إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
(148) Dan bagi tiap-tiapnya itu satu tujuan yang dia hadapi. Sebab itu berlomba-lombalah kamu pada serba kebaikan. Di mana saja kamu berada niscaya akan di­kumpulkan Allah kamu sekalian.Sesungguhnya Allah atas tiap-tiap sesuatu Maha Kuasa.

وَ مِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ إِنَّهُ لَلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ وَ مَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
(149) Dan dari mana saja engkau keluar, hadapkanlah muka engkau ke pihak Masjidil Haram.Dan sesungguhnya (perintah) itu adalah kebenaran dari Tuhan engkau.Dan tidaklah Allah lengah dari apapun yang kamu amalkan.

وَ مِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ حَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلاَّ يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلاَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَ اخْشَوْنِيْ وَ لِأُتِمَّ نِعْمَتِيْ عَلَيْكُمْ وَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْ
(150) Dan dari mana sajapun kamu keluar, maka hadapkanlah muka engkau ke pihak Masjidil Haram, dan di mana sajapun kamu ber­ada, hendaklah kamu hadapkan muka kamu ke pihaknya. Supaya jangan ada alasan bagi manusia hendak mencela kamu. Kecuali orang-orang yang aniaya di antara mereka, maka janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kepada Aku. Dan Aku sempurnakan nikmatKu kepada kamu, dan supaya kamu men­dapat petunjuk.

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلاً مِّنْكُمْ يَتْلُوْ عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَ يُزَكِّيْكُمْ وَ يُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَ الْحِكْمَةَ وَ يُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ
(151) Sebagaimana telah Kami utus kepada kamu seorang Rasul , dari kalangan kamu sendiri, yang mengajarkan kepada kamu ayat-­ayat Kami dan membersihkan kamu dan akan mengajarkan ke­pada kamu Kitab dan Hikmat, dan akan mengajarkan kepada kamu perkara-perkara yang tidak kamu ketahui.

فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْا لِيْ وَلاَ تَكْفُرُوْن
(152) Maka ingatlah kepadaKu , niscaya Aku akan ingat pula kepadamu ; dan bersyukurlah!! kepadaKu dan janganlah Kamu menjadi kufur."

Dari Hal Kiblat III
وَ لِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا
"Dan bagi tiap-tiapnya itu ada satu tujuan yang dia hadapi. " (pangkal ayat 148).
Ayat ini adalah lanjutan dari keterangan tentang masing-masing golongan yang mempertahankan kiblatny: tadi.
Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai tafsir ayat ini, ialah bahwa bagi tiap-tiap pemeluk suatu agama ada kiblatnya sendiri. Bahkan tiap-tiap kabilahpun mempunyai tujuan dan arah.sendiri, mana yang dia sukai. Namun orang yang beriman tujuan atau kiblatnya hanya satu, yaitu mendapat ridha Allah.
Abul `Aliyah menjelaskan pula tafsir ayat ini demikian: "Orang Yahudi mempunyai arah yang ditujuinya, orang Nasranipun mempunyai arah yang ditujuinya. Tetapi kamu, wahai ummat Muslimin, telah ditunjukkan Allah kepadamu kiblatmu yang sebenarnya."

Nabi lbrahim di zaman dahulu berkiblat ke Masjidil Haram, ummat Yahudi berkiblat ke Baitul Maqdis, ummat Nasrani berkiblat ke sebelah timur, dan Nabi-nabi yang lainpun tentu ada pula kiblat mereka menurut zamannya masing-masing, dan engkau wahai utusanKu dan kamu wahai pengikut utusan­Ku; kamu mempunyai kiblat. Tetapi kiblat bukanlah pokok, sebagai di ayat-ayat di atas telah diterangkan, bagi Allah timur dan barat adalah sama, sebab itu kiblat berobah karena perobahan Nabi. Yang pokok ialah menghadapkan hati langsung kepada Allah, Tuhan sarwa sekalian alam. itulah dia wijhah atau tujuan yang sebenarnya.

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
"Sebab itu berlomba-lombalah kamu pada serba kebaikan."

Jangan kamu berlarut-larut berpanjang-panjang bertengkar per­kara peralihan kiblat. Kalau orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak mau me­ngikuti kiblat kamu; biarkanlah. Sama-sama setialah pada kiblat masing­-masing. Dalam agama tidak ada paksaan. Cuma berlombalah berbuat serba kebajikan, sama-sama beramal dan membuat jasa di dalam peri-kehidupan ini.

أَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللهُ جَمِيْعًا
"Di mana saja kamu berada, niscaya akan dikumpulkan Allah kamu se­kalian."

Baikpun kamu dalam Yahudi, dalam Nasrani, dalam Shabi'in dan dalam iman kepada Muhammad s.a.w., berlombalah kamu berbuat berbagai kebajikan dalam dunia ini, meskipun kiblat tempat kamu menghadap shalat berlain-lain. Kalau kamu akan dipanggil menghadap kepada Aliah; tidak perduli apakah dia dalam kalangan Yahudi Nasrani, Islam dan lain-lain; berkiblat ke Ka bah atau ke Baitul Maqdis. Di sana pertanggung jawabkanlah amalan yang telah dikerjakan dalam dunia ini. Moga-moga dalam perlombaan berbuat kebajikan itu, terbukalah hidayat Tuhan kepada kamu, dan terhenti sedikit demi sedikit pengaruh hawanafsu dan kepentingan golongan; mana tahu, akhirnya kamu kembali juga kepada kebenaran;

إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
"Sesungguhnya Allah atas tiap-tiap sesuatu adalah Maha Kuasa."(ujung ayat 148).

Perlombaan manusia berbuat baik di dunia ini beiumlah berhcnti. Segala sesuatu bisa kejadian. Kebenaran Tuhan makin lama makin nampak. Allah Maha Kuasa berbuat sekehendakNya:
Ayat ini adalah seruan merata; seruan damai dari lembah wahyu ke dalam masyarakat manusia berbagai agama. Bukan khusus kepada ummat Mu­hammad saja. Kemudian kembali lagi kepada pemantapan soal kiblat itu:

وَ مِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
"Dan dari mana saja engkau keluar, hadapkanlah muka engkau kepihak Masjidil Haram."(pangkal ayat 149).

Artinya, meskipun ke penjuru yang mana engkau menujukan perjalananmu, bila datang waktu shalat, teruslah hadapkan mukamu ke pihak Masjidil Haram itu Ayat ini sudahlah menjadi perintah yang tetap kepada Rasulullah dan ummatnya terus-menerus di belakang beliau. Sebab itu ditegaskan pada lanjutnya-

وَ إِنَّهُ لَلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ
"Dan sesungguhnya (perintah) itu adalah kebenaran dari Tuhan engkau. "

Tidak akan berobah lagi selama-lamanya:

وَ مَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
"Dan tidaklah Allah lengah dari apapun yang kamu amalkan." (ujung ayat 149).

Artinya, kesungguhan kamu melaksanakan perintah ini, tidaklah Allah akan melengahkannya. Gelap malam tak tentu arah; lalu kamu lihat pedoman pada bintang-bintang, kamu kira-kira di sanalah arah kiblat lalu kamu shalat. Allah tidaklah melengahkan kesungguhan kamu itu.
Kamu datang ke negeri orang lain, kamu tanyakan kepada penduduk Muslim di situ; ke mana kiblat? Lalu mereka tunjukkan. Kamupun shalat. Allah tidak lengah dengan kepatuhan kamu itu.
Sengaja engkau beli sebuah kompas (pedoman), engkau kundang dalam sakumu ke mana saja engkau pergi. Lalu orang bertanya; buat apa kompas itu, padahal tuan bukan nakhoda kapal? Engkau jawab: penentuan kiblat jika aku shalat! Tuhan tidak melengahkan perhatianmu itu.

Kamu mendirikan mesjid yang baru. Yang lebih dahulu kamu ukur dan jangkakan ialah mihrab untuk menentukan jurusan kiblat. Allah tidak lengah dari kesungguhanmu itu.
Sampai ada di antara kamu yang khas belajar ilmu falak, yang pada asalnya sengaja buat mengetahui hal kiblat saja, sampai berkembang jadi ilmu yang luas. Allah tidak melengahkan kesungguhanmu itu.
Kemudian dijelaskan lagi:
وَ مِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
"Dan dari mana sajapun kamu keluar, maka hadapkanlah muka engkau ke pinak Masjidil Haram." (pangkal ayat 150).

ini adalah perintah khusus bagi beliau. Kemudian dijelaskan sekali iagi kepada seluruh ummat Muhammad s.a.w. supaya mereka pegang teguh peraturan itu di mana sajapun mereka berada.

وَ حَيْثُ مَا كُنْتُمْ
"Dan di mana sajapun kamu berada." Hai Ummat Muhammad s.a.w.

فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ
"Hendaklah kamu hadapkan muka kamu ke pihaknya."

Jangan diobah-obah lagi dan tidak akan berobah-obah lagi peraturan ini selama-lamanya. Baik sedang kamu di lautan; carilah arah kiblat, shalatlah menghadap ke sana. Baik kamu sedang di Kutub Utara atau Kutub Selatan, carilah arah kiblat dan shalatlah menghadap ke pihak sana. Di pangkal ayat dipakai engkau, untuk Muhammad. Di tengah ayat dipakai kamu , untuk kita ummatnya.

لِئَلاَّ يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ
"Supaya jangan ada alasan bagi manusia hendak mencela kamu."
Karena penetapan kiblat itu sudah pasti diterima oleh manusia yang sudi menjunjung tinggi kebenaran. Sebagaimana tadi telah diterangkan, orang-orang yang keturunan kitab sudah faham akan kebenaran hal ini. Sebab rumah Allah yang pertama didirikan ialah Masjidil Haram di Makkah itulah mereka berkumpul tiap-tiap tahun mengerjakan haji, menjalankan wasiat nenek-moyang mereka Nabi Ibrahim. Pendeknya tidaklah akan ada bantahan dan sanggahan daripada orang yang berfikir sihat tentang penetapan kiblat itu.

إِلاَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَ اخْشَوْنِيْ
"Kecuali orang-orang yang aniaya di antara mereka, maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada Aku . "

Orang-orang yang aniaya, yang lidah tidak bertulang tentu akan ada saja bantahannya. Orang-orang yang aniaya dari kalangan Yahudi akan berkata:

"Muhammad memutar kiblatnya ke Ka'bah, padahal di sana berderet 360 berhala yang selalu dicela-celanya itu. Rupanya dia akan kembali agarna nenek-moyang orang Quraisy." Orang-orang yang aniaya di kalangan musyrikin akan berkata. "Dialihnya kiblat ke Makkah karena rupanya dia hendak menarik-narik kita atau telah insaf atas kesalahannya." Orang munafik di Madinah akan berkata: "Memang pendiriannya tidak tetap, sebentar begini sebentar begitu." Maka janganlah diperdulikan itu semuanya dan jangan takut akan serangan-serangan yang demikian, tetapi kepada Aku sajalah takut, kata Allah. PerintahKu sajalah yang akan dilaksanakan.

وَ لِأُتِمَّ نِعْمَتِيْ عَلَيْكُمْ وَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْ
"Dan Aku sempurna­kan nikmatKu kepada kamu, dan supaya kamu mendapat petunjuk."(ujung ayat 150).
Di ujung ayat itu Allah membayangkan janjiNya, bahwa nikmat perihal kiblat itu akan disempurnakanNya. Nikmat pertama baru peralihan kiblat, padahal di Ka'bah waktu itu masih ada berhala. Tetapi Aku janjikan lagi, negeri itu akan Aku serahkan ke tangan kamu, Ka'bah akan kamu bersihkan dari berhala dan akan tetap buat selama-lamanya menjadi lambang kesatuan arah dari seluruh ummat yang bertauhid. Dalam pada itu petunjuk-petunjuk akan tetap juga Aku berikan kepada kamu sekalian.

Setelah selesai Perjanjian Hudaibiyah di tahun yang keenam, diulang lagi janjiNya oleh Allah bahwa kemenangan telah datang dan nikmatNya yang dijanjikan itu memang akan disempurnakan (lihat Surat al-Fath. Surat 48 ayat 2). Dan tahun kedelapan takluklah Makkah dan habislah berhala disapu bersih dari Ka'bah dan seluruh Masjidil Haram, bahkan dari seluruh Tanah Hejaz, dan tegaklah agama Allah dengan jayanya.

Maka ijma` (sefahamlah) seluruh ulama Islam , bahwasanya shalat meng­hadap kiblat Masjidil Haram adalah wajib. Cuma sedikit pertikaiannya, menjadi syaratkah daripada sahnya shalat atau tidak. Sebab pernah juga Nabi s.a.w. bersama sahabatrjya shalat malam hari pada suatu medan perang; setelah hari pagi kenyataan bahwa kiblatnya salah arah. Maka tidaklah beliau ulang kembali shalat itu.

Adapun tentang tepat atau tidaknya penghadapan, hendaklah kita fahami bahwa Agama Islam tidaklah agama yang memberati.
Sebab itu maka pada ayat-ayat perintah kiblat itu disebut syathr yang kita artikan pihak. Maka tersebutlah pada sebuah Hadits yang dirawikan oleh al­Baihaqi di dalam Sunnahnya, Hadis Marfu`:
"Baitullah (Ka'bah) adalah kiblat bagi orang-orang yang dalam mesjid. Dan mesjid adalah kiblat bagi orang-orang yang tinggal di Tanah Haram (sekeliling Makkah). Dan Tanah Haram (Makkah) adalah kiblat bagi seluruh penduduk bumi, timurnya dan baratnya; dari ummatku. "
Dengan adanya Hadits ini sudah mudahlah difahamkan tentang arti syathr yang kita artikan pihak atau jurusan itu. Dan dengan demikian dapat pula kita fahami bahwa agama tidaklah memerintahkan kita mengerjakan pekerjaan yang berat, yaitu supaya di manapun kita berada hendaklah tepat setepat­tepatnya wajah kita menghadap ke Baitullah. Karena yang demikian sangatlah sukar melakukannya, asal sudah kena saja jurusannya sudahlah cukup. Dalam hal ini zhan (kecenderungan persangkaan) sudah cukup untuk menentukan arah kiblat, sehingga orang yang belum mengerti benar-benar di mana jurusan kiblat, bolehlah menurut saja ke mana arah yang diberati persangkaannya.

Tetapi suatu kemusykilan karena beragama hanya tersebab pusaka nenek ­moyang belaka , telah terjadi pada bangsa Indonesia yang berpindah dan berdiam bertahun-tahun di Suriname. Ketika terbuka perkebunan-perkebunan besar di sana, pengusaha-pengusaha kebun itu telah membawa beratus-ratus kuli kebun dari Tanah Jawa. Setelah mereka berdiam beranak-cucu di sana, mereka mendirikan mesjid tempat mereka shalat. Tetapi kiblatnya mereka hadapkan ke barat, sebab mesjid-mesjid di Tanah Jawa menghadap ke barat. Padahal oleh karena letak mereka lebih ke barat dari jurusan Makkah, niscaya kiblat mereka yang sah ialah menghadap ke timur. Dan umumnya masyarakat yang mula-mula datang itu bukanlah orang-orang Indonesia terpelajar.

Setelah ada yang datang kemudian, yang jauh lebih cerdas, mereka inipun menyalahkan kiblat menghadap ke barat itu. Teguran ini rupanya menimbulkan perpecahan, sehingga ada mesjid yang berkiblat ke jurusan barat dan ke jurusan timur. Menurut khabar terakhir yang kita terima dari sana, kian lama kiblat ke barat itu kian surut jumlahnya karena sudah banyak yang cerdas dan ada yang telah naik haji ke Makkah.
Selanjutnya Tuhan bersabda:

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلاً مِّنْكُمْ
"Sebagaimana telah Kami utus kepada kamu seorang Rasul dari kalangan kamu sendiri." (pangkal ayat 151).

Tadi Tuhan telah menyatakan bahwa nikmatNya telah dilimpahkan kepada kamu, sekarang kamu telah rnempunyai kiblat yang tetap, pusaka Nabi Ibrahim, sebagaimana ummat-ummat yang lainpun telah mempunyai kiblat. Ini adalah suatu nikmat dari Allah, dan berlombalah kamu dengan ummat yang lain itu menuju kebajikan di dunia ini. Dan kamu tidak usah takut-takut akan gangguan dan kritik, baik dari Yahudi atau dari orang-orang yang masih jahiliyah yang akan mencela perubahan kiblat itu dengan caranya masing-masing karena safih, yaitu bercakap dengan tidak bertanggungjawab. Dan Tuhanpun telah menjanjikan pula bahwa nikmat ini akan Dia sempurnakan.

Di belakang perubahan kiblat akan menyasul lagi nikmat yang lain, yaitu satu waktu Makkah itu akan dapat kamu taklukkan. Di samping nikmat itu ada terlebih dahulu nikmat yang lebih besar, puncaknya segala nikmat, yaitu diutusnya seorang Rasul dari kalangan kamu sendiri.

يَتْلُوْ عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا
"Yang mengajarkan kepada karnu ayat-ayat Kami. "

yaitu perintah agar berbuat baik dan larang berbuat jahat:

وَ يُزَكِّيْكُمْ
"dan yang akan membersihkan kamu,"

bersih dari kebodohan dan kerusakan akhlak, bersih daripada kekotoran kepercayaan dan musyrik, sehingga kamu diberi gelar ummat yang menempuh jalan tengah di antara ummat-ummat yang ada dalam dunia ini:

وَ يُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَ الْحِكْمَةَ
"dan akan mengajarkan kepada karnu Kitab dan hikmat."

Kitab itu ialah al-Quran, yang akan menjadi pembimbing dan pedoman hidupmu di tengah-tengah permukaan bumi ini dan hikmat ialah kebijaksanaan dan rahasia-rahasia kehidupan, yang dicantumkan di dalam sabda-sabda yang dibawa oleh Rasul itu:

وَ يُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ
"Dan akan mengajarkan kepada kamu perkara-perkara yang (selama ini) tidak karnu ketahui." (ujung ayat 151)

Dalam ayat ini diterangkan bahwa peralihan kiblat adalah-suatu nikmat, tetapi nikmat ini kelak akan disempurnakan lagi. Tetapi di samping itu sudah ada nikmat yang paling besar, yaitu kedatangan Rasul itu sendiri. Dengan berpegang teguh kepada ajaran yang dia bawa, derajatmu akan lebih baik lagi. Dari lembah jahiliyah dan kegelapan, kamu dinaikkan Tuhan ke atas martabat yang tinggi, dengan ayat-ayat, dengan Kitab dan dengan hikmat. Dan tidak cukup hingga itu saja, bahkan banyak lagi perkara-perkara yang tadinya tidak kamu ketahui, akan kamu ketahui juga berkat bimbingan dan pimpinan Rasul itu.

Maka banyaklah soal-soal besar yang dulunya belum diketahui, kemudian jadi diketahui, berkat pimpinan Rasul. Ada yang diketahui karena ditunjukkan oleh wahyu ilahi, seumpama kisah Nabi-nabi yang dahulu dan ummat yang dibinasakan Tuhan lantaran menentang ajaran seorang Rasul. Dan ada soal ­soal besar yang diketahui setelah melalui berbagai pengalaman, baik karena berperang ataupun karena berdamai. Dan diketahui juga beberapa rahasia yang hanya diisyaratkan secara sedikit oleh al-Quran; lama kemudian baru diketahui artinya.

BerNabi, berQuran, berkiblat sendiri yang tertentu, kemudian disuruh berlomba-lomba berbuat kebajikan. Dan tidaklah boleh takut atau berjiwa kecil menghadapi berbagai rintangan dan halangan. Dengan beginilah akan kamu penuhi tugas yang ditentukan Tuhan sebagai ummat yang menempuh jalan tengah.

Dengan ini telah timbul satu ummat dengan cirinya yang tersendiri, untuk jadi pelopor menyembah Allah Yang Esa. Ada orang yang hendak mencoba menimbulkan keraguan orang yang bukan Arab daripada isi ayat ini. Karena disebutkan bahwa Allah mengutus seorang Rasul di antara kamu. Kata mereka, ayat ini menunjukkan bahwa beliau hanya diutus kepada orang Arab, sebab yang dimaksud dengan karnu di sini ialah bangsa Arab.

Penafsiran yang seperti ini salah, ataupun disalah-artikan. Kalau difaham­kan secara demikian, tentu batallah maksud ayat-ayat yang lain, yang mengan­dung seruan kepada Bani Adam, atau kepada al-Insan, atau kepada an-Nas. Tentu batal pula ayat-ayat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad s.a.w. diutus Tuhan adalah untuk Rahmat bagi seluruh alam Rahmatan lil-`Alamin.

Tentu orang-orang sebagai Shuhaib yang berbangsa Rum, ataupun Salman yang berbangsa Persia tidak akan menyambut seruan ini. Dan tentu Abdullah bin Salam orang Yahudi, atau Tamim ad-Dari dan Adi bin Hatim orang Nasrani tidak masuk Islam.

Yang dirnaksud dengan di antara kamu di sini, bukanlah di antara orang Arab saja, atau di antara Quraisy saja, melainkan lebih luas. Yaitu mengenai manusia seluruhnya. Nabi Muhammmad diutus dalam kaiangan manusia dan dibangkitkan di antara manusia sendiri; bukan dia Malaikat yang diutus dari langit. Dengan sebab beliau diutus di antara manusia, maka mudahlah bagi manusia meniru me-neladan sikap beliau.

فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ
"Maka ingatlah kepadaKu, niscaya Aku akan ingat pula kepadamu." (pangkal ayat 152).

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dan ad-Dailami dari jalan Jubair diterimanya dari ad-Dhahhak, bahwa lbnu Abbas menafsirkan demikian: "Ingatlah kepadaKu, wahai sekalian hambaKu, dengan taat kepadaKu; niscaya Akupun akan ingat kepadamu dengan memberimu ampun."

Dan ditambah pula tafsirnya oleh Abu Hindun ad-Dari, yang dirawikan oleh lbnu `Asakir dari ad-Dailami, menurut sebuah hadits: "Maka barangsiapa yang ingat akan Daku, dan diikutinya ingat itu dengan taat, maka menjadi kewajibanlah atasKu membalas ingatnya itu dengan mengingatnya pula, de­ngan jalan memberinya ampun. Dan barangsiapa yang ingat kepadKu, tetapi dia berbuat durhaka (maksiat), Akupun akan mengingatnya pula dengan menimpakan ancaman kepadanya."

وَ اشْكُرُوْا لِيْ وَلاَ تَكْفُرُوْن
"Dan bersyukurlah kepadaku, dan janganlah kamu menjadi kufur." (ujung ayat 152).
Bersyukurlah atas nikmat-nikmat yang Dia limpahkan, yaitu dengan jalan berterima-kasih dan mengucap syukur, Ucapan itu bukan semata mata dengan mulut, melainkan terbukti dengan perbuatan.

Karena suatu nikmat apabila telah disyukuri, Tuhan berjanji akan menambahnya lagi. Dan janganlah sampai berbudi rendah, tidak mengingat terima kasih. Tidak syukur atas nikmat adalah suatu kekufuran. Kalau nikmat yang telah dianugerahkan Allah tidak disyukuri, mudah saja bagi Allah mencabutnya kembali, dan meng­hidupkan kita di dalam gelap.

Meskipun Rasul sudah diutus, ayat sudah diberikan, al-Qura'n sudah diwahyukan, hikmat sudah diajarkan dan kiblat sudah terang pula, semuanya tidak akan ada artinya kalau tidak ingat kepada Allah (zikir) dan bersyukur. Orang yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan yang telah ada, tidaklah akan rnerasai nikmat Islam itu. Maka zikir dan syukur, adalah dua pegangan teguh yang banyak diterangkan di dalam al-Quran dan Sunnah Rasulullah s.a.w.







Referensi :
 http://kongaji.tripod.com/myfile/al-baqoroh_ayat_148-152.htm