Senin, 16 Januari 2023

PANGERAN ANGKA WIJAYA MBAH PULOSAREN LOSARI

PANGERAN ANGKA WIJAYA

MBAH PULOSAREN LOSARI



                wilayah Losari yang terletak di Jawa Barat dan Jawa Tengah menunjukkan bahwa pengaruh Islam dari Cirebon juga kental mewarnai dan mempengaruhi penyebaran Islam di Kabupaten Brebes. Hal ini terbukti lewat jejak sejarah Kompleks Makam Pulosaren di wilayah Losari Lor (utara). Gerbang kompleks makam ini menggunakan arsitektur khas Keraton Cirebon. Di dalam kompleks makam ini juga terdapat kuburan tokoh penyebar Islam di Losari, Pangeran Angka Wijaya atau Panembahan Losari. Masyarakat sekitar menyebutnya Mbah Pulosaren.

                Pangeran Angka Wijaya merupakan salah seorang cucu Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati. Ia mendapatkan tugas untuk menyebarluaskan dakwah dan ajaran Islam di wilayah Cirebon bagian timur, yaitu Losari. Jejak dakwah yang dilakukan oleh Pangeran Angka Wijaya menurut catatan sejarah dilakukan pada abad ke-16.

                Karakter kuat yang dimiliki Pangeran Angka Wjiaya dalam upaya menyebarluaskan agama Islam diwarisi dari kakeknya sendiri, yaitu Sunan Gunung Djati. Sebelumnya, pola dakwah Islam yang sejuk dan ramah oleh Sunan Gunung Djati juga lahir dari seorang pamannya bernama Pengeran Cakrabuwana atau yang dikenal Mbah Kuwu Sangkan, makamnya ada daerah Cirebon Girang. Mbah Kuwu Sangkan merupakan tokoh utama babad alas Islam di Cirebon.

                Setiap tahun, di Makam Pulosaren diselenggarakan kegiatan Haul Pangeran Angka Wijaya yang melibatkan Pemerintah Kabupaten Brebes, pihak Keraton Kasepuhan Cirebon, dan ribuan masyarakat dengan mendatangkan kereta kencana. Kendaraan khas yang dahulu digunakan oleh pihak kerajaan ini sengaja didatangkan langsung oleh Keraton Kasepuhan Cirebon untuk digunakan dalam acara Kirab Panembahan Losari.

                Makam Pangeran Angka Wijaya juga selalu ramai peziarah terutama ketika penyelenggaraan haul terus diperkuat oleh para pemangku kebijakan dengan tujuan agar masyarakat tidak lupa dengan akar sejarahnya, terutama sejarah penyebaran Islam di Losari yang dinilai menjadi titik sentral meluasnya Islam di seluruh Kabupaten Brebes. Makam Pulosaren sendiri menunjukkan bahwa pengaruh Islam dan karakter Kerajaan Cirebon cukup kuat.

 

PERKEMBANGAN PENYEBARAN ISLAM

                Selain situs sejarah makam Pangeran Angka Wijaya, masyarakat Brebes juga bisa menelusuri jejak penyebaran Islam melalui makam Syekh Junaidi di Desa Randusanga Wetan, makam Mbah Idris di Desa Limbangan, dan beberapa situs makam yang terletak di wilayah Losari. Ada juga situs makam Pangeran Arya Penangsang di Dukuh Kosambi, Desa Jipang, Kecamatan Bantarkawung (Brebes bagian selatan).

                Selain menelusuri sejarah melalui sejumlah tokoh, masyarakat juga bisa melengkapi catatan sejarah tentang penyebaran Islam di Brebes melalui beberapa pesantren tua. Berdirinya beberapa pesantren tua di Brebes juga menunjukkan bahwa penyebaran Islam berkembang dari pesisir laut mengarah ke daerah pegunungan di wilayah selatan Brebes.

                Selain Pesantren Lumpur di Desa Limbangan Kecamatan Losari, di antara pesantren yang berusia cukup tua di Brebes ialah Pesantren Karangmalang di Ketanggungan (Brebes bagian tengah), Pesantren As-Salafiyah Luwungragi di Bulakamba yang saat ini dipimpin KH Subhan Makmun (Rais Syuriyah PBNU), dan tentu Pesantren Al-Hikmah di Benda Sirampog (Brebes bagian selatan) pada abad ke-19 dan awal abad ke-20.

                Masuk ke daerah Brebes kota, Masjid Agung Brebes juga merupakan salah satu situs sejarah penting tentang penyebaran Islam. Masjid yang berdiri megah di sebelah barat Alun-alun Brebes ini didirikan pada masa Bupati Raden Tumenggung Aria Singasari Panatayuda II (1836-1850).

                Dari beberapa situs sejarah di atas dapat dipahami bahwa penyebaran Islam di Brebes mengalami perkembangan pesat pada abad ke-19 melalui beberapa tokoh dan kiai dengan mendirikan pesantren sebagai wadah menempa ilmu-ilmu agama kepada masyarakat yang bersumber dari kitab-kitab ulama klasik (kitab kuning).

                Penyebaran Islam di wilayah pesisir Losari ini juga menunjukkan bahwa kajian sejarah tentang penyebaran Islam tidak melulu di pedalaman dan pegunungan seperti yang lebih banyak dilakukan oleh para peneliti. Karena justru Islam terlebih dahulu menyentuh masyarakat pesisir.

                Kajian Islam Pesisir oleh Prof Nur Syam (LKiS, 2005) telah menjadi kritik mendasar bagi para peneliti Barat. Dalam pandangan para Indonesianis (peneliti Barat yang meneliti tentang Indonesia), kajian Islam Jawa cenderung hanya memotret latar masyarakat pedalaman dan pengunungan. Pandangan inilah yang membuat mereka melupakan masyarakat pesisir.

RESISTENSI KOLONIAL

                Penyebaran agama Islam di Brebes ini bukan tanpa rintangan, sebab para tokoh dan kiai di pesantren harus menghadapi kekejaman kompeni Belanda kala itu. Bahkan, beberapa kiai mendapat ancaman di-bedil dari jarak dekat oleh Belanda karena dianggap mengancam eksistensi kolonial.

                Para kiai pesantren di seluruh pelosok Nusantara paham betul, rakyat Indonesia sedang dalam kondisi kesengsaraan luar biasa karena penjajahan. Sebab itu, selain sebagai tempat menempa ilmu agama, pesantren juga dimanfaatkan oleh para kiai sebagai wadah pergerakan nasional secara kultural untuk melawan ketidakperikemanusiaan penjajah.

 

            Walhasil, dari sejarah penyebaran Islam di Brebes tersebut, meskipun pengaruh Islam semakin besar, tetapi tidak serta merta memudarkan kearifan lokal (local wisdom). Banyak ditemui tradisi dan budaya masyarakat terdahulu yang masih bertahan hingga kini. Hal ini menunjukkan bahwa umat Islam di Brebes tidak tercerabut dari akar sosial masyarakatnya sebagai wujud keshalehan sosial selain memperkuat keshalehan spiritual.

                Penyebaran Islam melalui wayang, sejumlah tradisi slametan bernuansa Islami, adanya pengajaran kitab kuning dengan tulisan Arab Pegon berbahasa Jawa, begitu juga dengan perpaduan gamelan dan shalawat merupakan akulturasi dan kolaborasi budaya yang bersinergi dengan ajaran Islam warisan dakwah Wali Songo. Wallahu ‘alam bisshowab.






 

Jumat, 27 Mei 2022

Yang Perlu Dipersiapkan Untuk Masuk Pesantren


Yang Perlu Dipersiapkan Untuk Masuk Pesantren

Persiapan masuk pesantren atau hal-hal yang perlu dipersiapkan (dibawa) oleh santri baru atau dipersiapkan oleh orang tua saat memasukkan anaknya ke pondok pesantren.

1. INFORMASI PESANTREN

Hal paling awal yang harus diketahui adalah informasi atau gambaran mengenai pesantren yang dituju  :
Ada beberapa jenis pesantren:

      *  Pesantren Salaf Murni yaitu pesantren yang fokus pada pembelajaran agama (diniyyah) saja, tanpa ada pendidikan formal. Pesantren seperti ini biasanya murni pengkaderan ulama atau pengajar dibidang ilmu-ilmu agama Islam. Otomatis pesantren jenis ini juga ada tahfidz Al-Qur’an, sebab adanya penekanan hafalan
didalamnya baik al-Qur’an, hadits, nadham maupun lainnya.

     *   Pesantren Modern atau ‘Ashriyah atau al-Haditsiyyah, pesantren yang mengajarkan ilmu agama (kurikulum pesantren / diniyyah) sekaligus memiliki/mengikuti jenjang pendidikan formal, baik kurikulum Dinas Pendidikan atau Kementerian Agama. Pesantren seperti ini berupaya melakukan kombinasi antara pendidikan pesantren dan pendidikan formal dengan porsi yang berbeda-beda setiap pesantren.

Pondok Pesantren Al-Muhajirin Limbangan Losari Brebes Termasuk jenis Pesantren yang kedua.

Selain jenis tersebut, perlu juga mengetahui mengenai paham keagamaan atau afiliasi paham keagamaan yang dijadikan pijakan atau dikembangkan didalam pesantren tersebut. Pondok Pesantren Modern Al-Muttaqien Balikpapan merupakan pesantren yang berada dilingkungan Nahdlatul Ulama.

2.PERRSIAPAN NON-FISIK

Sebelum masuk ke Pesantran, atau bahkan sebelum menentukan pesantren yang akan dituju, mental juga perlu dipersiapkan, baik mental anak maupun orang tua. Seorang calon santri setidaknya sudah memiliki gambaran atau orang tua memberikan gambaran bahwa masuk ke pesantren tidak lain kecuali dengan niat menuntut ilmu, menggapai ridlo Allah Subhanahu wa Ta’ala, menghilangkan kebodohan dan lain sebagainya.

Orang tua, khususnya ibu harus siap berpisah dengan anaknya untuk sementara waktu.

Orang tua dan anak harus saling bersinergi karena kesuksesan seorang anak tidak pernah lepas daripada do’a dan perjuangan orang tua. Orang tua harus selalu mendo’akan anaknya yang sedang menuntut ilmu, demikian pula seorang anak harus selalu mendo’akan orang tua ketika berada di pesantren

3. PERSIAPAN FISIK

Persiapan fisik meliputi kondisi tubuh dan hal-hal yang perlu dibawa saat masuk ke Pondok Pesantren Al-Muhajirin Limbangan Losari Brebes Jawa Tengah.

- Al-Qur'an dan Alat Tulis
Santri membawa Al-Qur’an ukuran besar (wajib). Sebagai penunjang boleh membawa Al-Qur’an terjemah dan Juz ‘Amma. Santri membawa alat tulis yang diperlukan seperti buku tulis, gambar, pulpen warna hitam, pensil, penggaris, penghapus dan alat-alat tulis lainnya.

-Perlengkapan Shalat
Meliputi baju koko atau baju lengan panjang, sarung, atau gamis / jubah, kopiah warna hitam (wajib), sorban dan sajadah bila ada. Bagi santriwati membawa mukenah. Bawa perlengkapan shalat secukupnya. Gamis pesantren disediakan oleh pesantren.

– Pakaian Sehari-hari
Pakaian santri putra dan santri putri memaakai sarung, pakaian olahraga, sandal, pakaian dalam, kaos kaki dan lain sebagainya.

Santri dilarang menggunakan celana pendek . Wajib berpakean menutupi Aurot.
- Perlengkapan Mandi dan Mencuci
Meliputi ember, gayung, deterjen, sabun, shampho, handuk, sikat gigi, pasta gigi, softener, sikat baju, hangger / gantungan baju, dan lainnya.

– Perlengkapan Tidur
Meliputi alas untuk tidur semacam kasur tipis yang bisa digulung atau dirapikan kembali, bantal, selimut, dan lain sebagainya. Lotion anti-nyamuk atau alat pengusir nyamuk bila diperlukan.

– Perlengkapan Makan
Meliputi piring (lebih baik gunakan piring yang tidak mudah pecah), mangkuk, gelas, sendok, botol minum dan lain sebagainya yang diperlukan.

– Perlengkapan Sekolah
Perlengkapan sekolah terdiri dari alat tulis seperti diatas, tas, sepatu warna hitam, kaos kaki warna hitam, seragam sekolah sesuai dengan jenjang masing-masing. Seragam disediakan oleh sekolah.

– Obat Khusus
Bagi calon santri yang memiliki riwayat penyakit tertentu, hendaknya membawa perlengkapan obat yang khusus untuk penyakitnya dan wajib melaporkan riwayat gangguan kesehatannya kepada pengurus pesantren.

4. HAL-HAL LAIN YANG PENTING

1. Seragam MOS/PLPS
Santri semua jenjang wajib membawa seragam untuk kegiatan Pengenalan Lingkungan Pesantren dan Madrasah (PLPM) yaitu bawahan hitam (celana hitam bagi putra, rok hitam bagi putri), atasan putih lengan panjang, kerudung warna hitam bagi putri.

2. Penting! Memberi Identitas

    Semua barang yang dibawa harus diberi TANDA atau NAMA dengan sesuatu yang tidak bisa luntur atau terhapus agar barang bawaan masing-masing tidak tertukar. Pakaian disarankan agar bordir nama, sedangkan peralatan keras seperti ember, piring dan lain sebagainya bisa menggunakan cat/ tipe-ex, spidol tahan air, goresan atau lainnya.

5. HAL-HAL YANG TIDAK BOLEH DIBAWA 
  1. Santri DILARANG Membawa :
  2. Handphone atau alat komunikasi lainnya. Kecuali jenjang SMK, santri jenjang SMK Nahdlatul Ulama boleh membawa Laptop untuk menunjang proses belajar, tetapi wajib dititipkan di kantor Pesantren.
  3. Senjata tajam dan aksesoris diluar kepatutan santr.
  4. Baju yang tidak mencerminkan santri/ bergambar unsur keburukan.
  5. Buku yang tidak mendidik (novel romance, majalah, komik, dan sejenisnya)

Senin, 28 Maret 2022

LIBURAN KERUMAH NENEK

 Nama : Desy Putri Al-Musyaffa

Kelas  : 5 AMMAN

LIBURAN KERUMAH NENEK

Pagi ini Putri terlihat sedang packing-packing. Hendak ke mana dia? Ooh, ternyata dia akan pergi ke kampungnya dan menginap di rumah neneknya. Liburan hari ini, jadi dia dapat menghabiskan waktunya bersama nenek yang sangat ia sayang.

Setelah packing barang, ia mengambil kamera. Hari ini ia rencananya akan membuat vlog. Putri ini punya channel di youtube. Dan isi channelnya adalah vlog dia kalau jalan jalan, karena Putri juga anak yang kreatif, dan video yang berkaitan dengan squishy.

Setelah membuat vlogPutri ke dapur membuat cereal dan coklat panas untuk menemani perutnya yang sudah minta diisi. Ia memilih makan sambil nontontv di ruang keluarga.

Beberapa suapan sudah masuk. Tiba-tibaImam yang merupakan KakakPutri mengagetkannya.
“DOOR!!!” ucap Imam.  Putri menengok ke belakang.
“Mas Imam!! NGAPAIN NGAGETIN AKU, KALAU CEREALNYA TUMPAH AKU BISA DIMARAHIN MAMA!” ucap Putri.
“Yee marah gak jadi Mas Imamajak nge-vlog ah, dadah!” Imammelenggang pergi ke kamarnya.
“Biarin!!!” Ucap Putri kesal. Selesai sarapan ia pergi bermain sepeda.

Sore menjelang, Putri baru pulang main sepeda.
“Putri! Kamu dari mana? Main jam 10 pagi, pulang jam 5 sore. Dari mana? Kamu juga belum makan siang, tau!” Mama langsung memberondong Putridengan pertanyaan.
“Mama, gini ceritanya. Sahabatku Indah, mengajakku bermain di rumahnya, ya sudah aku ikutinaja. Pas mau pulang, aku mampir ke cafedeket rumahnya Indah. Di situ aku makan siang, setelah mau pergi, aku bertemu dengan Yuyun sahabat lamaku, jadi ngobrol di sana!” Terangku panjang lebar.

Esok hari tiba, ia bangun lebih awal. Ya iyalah. Putri langsung mandi dan mengenakan pakaian. Dan bersiap-siap untuk ke rumah nenek. ingat jam 7.00 kita berangkat”. Aku pergi bersama Mas Imam Ibu dan Ayah. Kampung nenekku ada di LOSARI.

Sekitar pukul 10.00 aku sampai di Losari. Aku langsung menuju rumah Nenek.
Sungguh aku merasa sangat bahagia. Nenek yang sangat kurindu ini bisa kupeluk hari ini. Ia tinggal sendiridan kakek sudah meninggal. Hari kami pertama datang di Losari untuk beristirahat dulu. Sungguh perjalanan yang melelahkan.

Esok harinya aku masih mengunjungi rumah saudara-saudaraku. Dan hari selanjutnya aku berpetualang di Losari.

15 April 2018, ‏‎17:31:44